Pandangan FPI Habib Rizieq Syihab terhadap WAHABI dan SYI'AH

Posted by Unknown on Selasa, 17 Desember 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Pandangan FPI Habib Rizieq Syihab terhadap WAHABI dan SYI'AH
Pandangan FPI Habib Rizieq Syihab terhadap WAHABI dan SYI'AH | Seputar Macam Aliran Wahabi dan Syiah | Mengenal Singkat Wahabi dan Syiah | Apakah FPI itu Sunni atau Wahabi ataupun Syiah ?
Mohon sebarkan ke yang lain agar tidak tersesat pada paham takfiri yg ekstrim mengkafirkan sesama Muslim.

Sikap FPI Terhadap SYI'AH Dan WAHABI
SENIN, 15 FEBRUARI 2010 | 16:43 WIB
Sehubungan dengan bermunculan beragam macam pertanyaan bahkan fitnah dan tuduhan dalam berbagai blog mau pun facebook di dunia maya tentang aqidah FPI, ditambah lagi banyaknya desakan dari berbagai pihak agar FPI menyampaikan sikapnya secara terbuka tentang SYI'AH dan WAHABI. Maka kami redaksi fpi.or.id berinisiatif untuk menukilkan pernyataan Ketua Umum FPI Habib Muhammad Rizieq Syihab, MA, saat DIKLAT Sehari FPI di akhir tahun 2009 yang lalu berkaitan dengan ASASI PEJUANGAN FPI yang terkait asas, aqidah, dan madzhab Organisasi.

FPI adalah organisasi AMAR MA'RUF NAHI MUNKAR yang berasaskan ISLAM dan ber-aqidahkan AHLUS SUNNAH WAL JAMA'AH serta bermadzhab fiqih SYAFI'I. Jadi, FPI bukan SYI'AH atau pun WAHABI.

SYI'AH

Pandangan FPI terhadap SYI'AH sebagai berikut : FPI membagi Syi'ah dengan semua sektenya menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, SYI'AH GHULAT yaitu Syi'ah yang menuhankan/menabikan Ali ibn Abi Thalib RA atau meyakini Al-Qur'an sudah di-TAHRIF (dirubah/ditambah/dikurangi), dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari USHULUDDIN yang disepakati semua MADZHAB ISLAM. Syi'ah golongan ini adalah KAFIR dan wajib diperangi.

Kedua, SYI'AH RAFIDHOH yaitu Syi'ah yang tidak berkeyakinan seperti Ghulat, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan atau pun tulisan terhadap para Sahabat Nabi SAW seperti Abu Bakar RA dan Umar RA atau terhadap para isteri Nabi SAW seperti 'Aisyah RA dan Hafshah RA. Syi'ah golongan ini SESAT, wajib dilawan dan diluruskan.

Ketiga, SYI'AH MU'TADILAH yaitu Syi'ah yang tidak berkeyakinan Ghulat dan tidak bersikap Rafidhah, mereka hanya mengutamakan Ali RA di atas sahabat yang lain, dan lebih mengedapankan riwayat Ahlul Bait daripada riwayat yang lain, secara ZHOHIR mereka tetap menghormati para sahabat Nabi SAW, sedang BATHIN nya hanya Allah SWT Yang Maha Tahu, hanya saja mereka tidak segan-segan mengajukan kritik terhadap sejumlah sahabat secara ilmiah dan elegan. Syi'ah golongan inilah yang disebut oleh Prof. DR. Muhammad Sa'id Al-Buthi, Prof. DR. Yusuf Qardhawi, Prof. DR. Wahbah Az-Zuhaili, Mufti Mesir Syeikh Ali Jum'ah dan lainnya, sebagai salah satu Madzhab Islam yang diakui dan mesti dihormati. Syi'ah golongan ketiga ini mesti dihadapi dengan DA'WAH dan DIALOG bukan dimusuhi.

WAHABI

Ada pun Pandangan FPI terhadap WAHABI sebagai berikut : FPI membagi WAHABI dengan semua sektenya juga menjadi TIGA GOLONGAN ; Pertama, WAHABI TAKFIRI yaitu Wahabi yang mengkafirkan semua muslim yang tidak sepaham dengan mereka, juga menghalalkan darah sesama muslim, lalu bersikap MUJASSIM yaitu mensifatkan Allah SWT dengan sifat-sifat makhluq, dan sebagainya dari berbagai keyakinan yang sudah menyimpang dari USHULUDDIN yang disepakati semua MADZHAB ISLAM. Wahabi golongan ini KAFIR dan wajib diperangi.

Kedua, WAHABI KHAWARIJ yaitu yang tidak berkeyakinan seperti Takfiri, tapi melakukan penghinaan/penistaan/pelecehan secara terbuka baik lisan mau pun tulisan terhadap para Ahlul Bait Nabi SAW seperti Ali RA, Fathimah RA, Al-Hasan RA dan Al-Husein RA mau pun 'Itrah/Dzuriyahnya. Wahabi golongan ini SESAT sehingga mesti dilawan dan diluruskan.

Ketiga, WAHABI MU'TADIL yaitu mereka yang tidak berkeyakinan Takfiri dan tidak bersikap Khawarij, maka mereka termasuk MADZHAB ISLAM yang wajib dihormati dan dihargai serta disikapi dengan DA'WAH dan DIALOG dalam suasana persaudaraan Islam.

Dengan demikian, FPI sangat MENGHARGAI PERBEDAAN, tapi FPI sangat MENENTANG PENYIMPANGAN. Oleh karena itu semua, FPI menyerukan kepada segenap Umat Islam agar menghentikan/membubarkan semua majelis/mimbar mana saja yang secara terbuka melecehkan/menghina/menistakan Ahlul Bait dan Shahabat Nabi SAW atau menyebarluaskan berbagai KESESATAN atau melakukan PENODAAN terhadap agama, lalu menyeret para pelakunya ke dalam proses hukum dengan tuntutan PENISTAAN AGAMA. (redaksi fi.or.id/adie)
http://fpi.or.id/?p=detail&nid=98

Pandangan Habib Munzir Al Musawa dari Majelis Rasulullah tentang Wahabi:
beda dengan orang orang wahabi, mereka tak punya sanad guru, namun bisanya cuma menukil dan memerangi orang muslim.
mereka memerangi kebenaran dan memerangi ahlussunnah waljamaah, memaksakan akidah sesatnya kepada muslimin dan memusyrikkan orang orang yg shalat.
http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=5324&catid=8

salaf, artinya adalah kaum yg terdahulu, salaf adalah istilah bagi Ulama Ulama yg terdahulu di masa setelah Tabi’ Tabiin, namun kaum penganut ajaran wahabi menamakan dirinya salafy, padahal mereka tak mengikuti ajaran ulama salaf yg terkenal berbudi luhur, ahli ibadah, ahli ilmu syariah.
mereka ini muncul di akhir zaman justru membawa ajaran sesat dan mengaku salaf.
http://www.majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=5&func=view&id=957&catid=7


Berikut kutipan transkrip dari video yang pertama

**** awal kutipan ****

Sampai hari ini ditengah-tengah kita masih saja terjadi sesama umat Islam saling menghujat, saling menyesatkan dan saling mengkafirkan.

Bahkan ironisnya yang sesat dianggap perbedaan biasa, yang perbedaan biasa dianggap sesat. Terbolak balik.

Hal ini kalau dibiarkan akan menjadi bibit permusuhan dan perpecahan.

Jadi jangan mimpi kita bisa bersaudara kalau kita satu sama lainnya saling mengkafirkan. Jangan mimpi kalau kita bersaudara kalau kita satu sama lainnya saling menyesatkan. Mustahil kita bisa bersaudara kalau antara kita satu sama lainnya saling menghujat, saling menyesatkan, saling mengkafirkan. Ini musibah bagi umat Islam. Innalillahi wa inailahi roji’un.

Karena itu saya sangat prihatin terbit sebuah buku dengan judul “Mulia dengan manhaj salaf”. Judulnya bagus betul. Diterbitkan oleh pustaka At Taqwa, Yang menulis Yazid bin Abdul Qodir.

Kenapa saya prihatin dengan kehadiran buku ini. Kalau kita buka pada bab yang ketigabelas yaitu bab yang terakhir. Disini penulis menyebutkan firqoh-firqoh sesat dan menyesatkan. Yang nomor delapan disebutkan Asy’ariah. Yang nomor sembilan disebut Maturidiyah. Kemudian yang nomor empat belas atau yang nomor tiga belas Shufiyah, ahli tasawuf. Yang nomor empat belas Jama’ah Tabligh. Yang nomor lima belas Ikhwanul Muslimin. Yang nomor tujuh belas Hizbut Tahrir. dan nomor dua puluh tujuhnya Jaringan Islam Liberal.

Jadi Asy’ariyah, Maturidiyah, ini yang merupakan representatif, mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah dimasukkan dalam satu kelompok dengan kalangan liberal yang notabene sesat menyesatkan.

Bahkan dengan mudahnya dia katakan Jama’ah Tabligh dan Ikhwanul Muslimin juga masuk firqoh sesat. Apakah yang semacam ini tidak memecah belah umat ?

Jadi kalau penulis ini ingin menyebarluaskan pahamnya, silahkan itu urusan dia. Kalau dia meyakini akidah yang dipercayainya merupakan aqidah yang benar, ttu urusan dia. Kalau dia merasa pendapatnya adalah pendapat yang paling benar, itu urusan dia. Tapi kalau dia mengkafirkan kelompok-kelompok umat Islam dari saudara-saudara kaum musliminnya dia tidak punya hak.

Buku-buku semacam ini memecah belah umat. Kalau pengarang ini merasa bahwa Wahhabi adalah ajaran yang paling benar, silahkan. Dia menamakan dirinya pengikut Salafi atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama istilah Wahhabi. Kalau dia merasa Salafi Wahhabi paling benar, hak dia. Kalau dia merasa paling suci, hak dia. Kalau dia merasa paling lurus, hak dia. Tapi dia tidak punya hak untuk sesat menyesatkan, kafir mengkafirkan sesama umat Islam.

Apalagi umat Islam dari kalangan Asy’ari dan Maturidi yang sudah 1200 tahun lebih secara representatif mewakili Ahlussunnah wal Jama’ah. Wahhabi baru lahir kemarin, terus ingin mengkafirkan ASy’ari. Memang selama ini 1000 tahun yang disebut Ahlussunnah itu siapa?

1000 tahun lebih yang disebut Ahlussunnah itu adalah Asy’ari dan Maturidi. Wahhabi tidak masuk daftar. Baru muncul belakangan, sudah ingin sesat menyesatkan umat Islam yang tidak sepakat dengan mereka. Innalillahi wainailahi rojiun.

Anda perlu ketahui kalau kelompok Wahabi merasa akidah yang diajarkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal yang terbaik, itu hak mereka. Tapi mereka harus tahu bahwa ulama-ulama dari Mazhab Syafi’i dan Maliki, mayoritas mereka mengikuti akidah Asy’ariah dan ulama-ulama dari mazhab Hanafi, mayoritas mereka mengikuti akidah Maturidiah.

Jadi kalau mereka mengkafirkan atau menyesatkan Asy’ariah dan Maturidiah berarti ulama-ulama yang jumlahnya ratusan ribu bahkan juta’an orang semenjak mazhab-mazhab itu lahir sampai saat ini berarti ulama-ulama mazhab Syafi’i , Mazhab Maliki, Mazhab Hanafi semuanya sesat, kafir. Innalillahi wainnailahi roji’un.

Tidak boleh begitu. Kita ingin berikan nasehat kepada penulis buku ini atau yang menerbitkannya atau yang mendukung daripada penyebarluasannya. Ittaqullah, takutlah kepada Allah.

Jangan sembarangan mengkafirkan saudara-saudaramu. Tidak boleh kita sembarangan mengkafirkan Ahli Kiblat. tidak boleh saudara, kita hanya boleh mengkafirkan yang sudah nyata-nyata kafir.

***** akhir kutipan *****

Tanggapan Habib Muhammad Rizieq Shihab terhadap Syiah


***** awal kutipan *****
Pandangan Anda tentang Syiah di Indonesia?

Kalau yang saya lihat selama ini, hubungan saya baik dengan kawan-kawan Syiah di Indonesia. Apa yang saya sampaikan ke Anda sekarang ini juga sudah saya sampaikan kepada mereka. Contohnya kepada Ustad Hassan Daliel, saya katakan, “Bib (habib—red), kenapa kita bisa jalan bareng? Karena saya belum pernah mendengar Anda mencaci-maki sahabat. Nah, ini perlu dijaga. Yang saya dengar kritik antum juga sopan. Tapi kalau suatu saat saya mengkafirkan Anda dan Anda maki-maki sahabat, kita bisa musuhan.” Ini sebagai gambaran umum dari apa yang saya terima dari Ustadz Hassan Daliel, Ustadz Othman Shihab, Ustadz Agus Abubakar, Ustadz Husein Shahab, Ustadz Zein Alhadi, dan banyak lagi ustadz-ustadz Syiah yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu. Saya belum pernah mendengar ungkapan jelek dari mulut-mulut mereka. Yang saya tahu mereka adil, berilmu, berakal, dan beradab. Mudah-mudahan hubungan ini bisa dipertahankan. Bahkan bukan hanya itu, saya berharap orang-orang seperti mereka mampu tampil ke depan mendorong orang-orang Syiah yang di bawah atau junior-junior mereka agar tidak mencaci-maki sahabat nabi. Sebab, ada satu saja Syiah yang mencaci-maki sahabat, nanti orang-orang Sunni yang tidak paham akan menggeneralisasi bahwa Syiah memang seperti itu. Orang awam kan mudah menggeneralisasi. Iran dikenal sebagai negara yang paling banyak membantu perjuangan Hamas dan rakyat Palestina yang notabene Sunni.

Apakah kenyataan ini tidak bisa dijadikan momentum persatuan Sunni-Syiah?

Iya, betul itu. Itu hal yang saya sangat catat. Waktu saya ke Iran kemarin, Khaled Mishal (Ketua Depatemen Politik Hamas—red) baru saja pulang dari Iran, tempat yang sama dengan yang kita datangi.

Jadi, hubungan Hamas dan Hizbullah yang saling topang dan bantu seharusnya menjadi potret bagi persatuan umat. Mereka tetap pada pendapatnya masing-masing. Tapi pada saat mempunyai musuh bersama yang bernama Israel dan Amerika, kekafiran dan kezaliman, Hamas-Hizbullah bisa duduk dan jalan bersama. Kita juga bisa melihat hubungan erat antara Hasan Nasrullah (Sekjen Hizbullah—red) yang Syiah dengan Fathi Yakan (tokoh Ikhwanul Muslimin di Lebanon) yang Sunni. Bahkan Nasrullah ngomong secara terbuka bahwa Fathi Yakan-lah yang pantas menggantikan Siniora. Inilah potret positif yang luar biasa di zaman modern ini.

Di sisi lain, kita juga sedih bagaimana Syiah dan Sunni di Irak begitu gampang diadu domba. Ini jelas permainan pihak ketiga. Dia (pihak ketiga—red) meledakkan mesjid Syiah dan menuding Sunni, dan kemudian meledakkan mesjid Sunni dan menuding Syiah.

Saya berharap kita bisa mengembangkan potret Sunni-Syiah yang pertama. Potret yang kedua harus dihentikan segera. Sekarang di mana-mana semakin transparan adu dombanya, seperti di Irak dan Pakistan. Karena Syiah di Indonesia tidak besar, maka (adu domba itu—red) belum terasa. Tapi di beberapa tempat adu-domba ini jelas berhasil.

Syiah bukan barang baru di Indonesia. Menurut Sejarahwan, Syiah datang dari Gujarat dan Persia. Setidaknya budaya Persia cukup dikenal dalam tradisi keberagamaan di Indonesia. Apakah ini bisa jadi salah satu faktor pemersatu Sunni-Syiah?

Iya, itu bisa jadi faktor. Tapi, tetap faktor utamanya adalah masalah jiwa besar dan akhlak yang baik. Orang Syiah yang berilmu dan berakhlak tidak akan mungkin dari mulutnya keluar caci-maki kepada umat lain. Tidak ada. Saya kenal ulama-ulama Syiah yang berakhlak dan berilmu. Tidak ada keluar kata-kata kotor dari mulut mereka. Jadi, bila ada aktivis-aktivis Syiah yang mengeluarkan kata-kata kotor tentang sahabat, saya jadi heran, mereka itu ngikutin siapa?

Jadi, semua kembali ke hati, yang gambarannya bisa dilihat dari mulut. Bila mulutnya sudah penuh umpatan dan caci-maki, pasti hatinya sudah jelek. Kalau hatinya baik, dia bisa menghargai orang. Dia bisa mengetahui dan menahan ucapannya yang bisa menyinggung saudaranya. Bila ingin menyampaikan kebenaran, ia menyampaikannya dengan santun. Bahkan bila kita berhadapan dengan orang kafir, meski mungkin hatinya mencaci-maki Islam, yang menyampaikan kritiknya dengan sopan, kita mesti menjawabnya. Nabi dulu juga berdialog dengan orang musyrik, kafir, Nasrani, dan Yahudi. Itu contoh bagi kita.

Bagaimana dengan fatwa MUI yang menyesatkan Syiah?

Begini, kita tidak bisa menggeneralisasi semua Syiah sesat atau semua Syiah tidak sesat. Sebab orang Syiah pun merngakui bahwa di internal Syiah pun terdapat macam-macam golongan, dan di dalamnya ada pula yang sesat, yakni yang menuhankan Ali, meyakini Jibril salah menyampaikan risalah, dan al-Quran yang seharusnya lebih tebal daripada sekarang. Itu ada dan diakui oleh Syiah mainstream. Dalam hal ini, yang dimaksudkan dengan fatwa MUI tadi adalah Syiah yang semacam itu.

Yang perlu disadari betul oleh Syiah adalah bahwa Ahlusunah punya sikap tegas soal sahabat. Bagi Sunni, siapa pun yang mencaci-maki dan apalagi mengkafirkan sahabat akan dikatakan sesat. Ini kunci.

Oleh karena itu, untuk mengambil jalan tengah, Syiah harus menahan diri dari mencaci-maki dan mengkafirkan sahabat. Ajaklah Sunni berdialog, seperti yang dilakukan kelompok Zaidiyah yang masih bagian dari Syiah. Kenapa Sunni dan Zaidiyah bisa akrab? Bahkan, kitab-kitab Zaidiyah, seperti Subulus Salâm dan Naylul Awthâr, dipakai di pondok-pondok (pesantren—red) Sunni.

Jadi, yang dikafirkan MUI tanpa ragu-ragu adalah Syiah yang mengkafirkan sahabat, yang meyakini al-Quran berubah, atau yang menganggap Ali lebih afdhal daripada Muhammad. Sekarang tinggal Syiah Indonesia introspeksi diri, apakah mereka masuk ke dalam ciri-ciri yang disesatkan MUI? Kalau tidak masuk dalam kelompok tersebut, tidak perlu gerah dengan fatwa itu. Saya sendiri lebih suka MUI membuka dialog. Hendaknya MUI mengundang tokoh-tokoh Syiah Indonesia untuk klarifikasi seperti apakah Syiah mereka itu.

Sekali lagi, saya berpendapat, kita tidak bisa mengeneralisasi Syiah. Sebab, Syiah itu macam-macam: ada yang moderat, konservatif, ekstrem, dan bahkan ada yang kafir. Bahkan, Muhammad Jawad Mughniyah (ulama Syiah Lebanon—red) dalam al-Fiqhu ‘ala al-Mazhâhib al-Khamsah mengatakan bahwa Syiah ghulat adalah kafir. Katanya, gara-gara ghulat, kami, Syiah Ja’fariyah, yang moderat jadi tertuduh. Waktu di Qum, saya melihat aparat menggerebek majelis Syiah Alawiyah, yang menuhankan Ali. Artinya, yang mengkafirkan Syiah ghulat bukan hanya MUI, bahkan ulama Syiah pun mengkafirkannya. Jadi kita perlu memahami konteks fatwa MUI tersebut.

Bagaimana relasi dengan kelompok Islam lain yang anti-tradisi?

Saya bergaul dengan berbagai macam kelompok. Dengan Ustad Abubakar Baasyir, saya sudah seperti keluarga. Saya anggap dia itu orang tua dan kawan. Meskipun orang tahu bahwa kita berdua punya pandangan yang berbeda tentang tradisi. Beliau orang yang arif. Beliau tetap punya pendapat dan dalil tetapi tidak menyerang kita. Saya bisa duduk dan diskusi bersama. Ada urusan umat yang lebih besar daripada sekedar kebolehan dan keharaman tahlil. Ada prioritas.

Kadang-kadang kita juga bicara tentang persoalan furu’, tetapi sifatnya ringan saja. Misalnya, waktu sama-sama di Lapas Salemba, kita sempat bicara tentang qunut subuh. Saya qunut karena ikut mazhab Syafi’i. Beliau tidak pakai qunut. Suatu kali beliau bilang dapat dalil bahwa Ibnu Abbas juga pakai qunut. Artinya, beliau juga mengkaji tetapi pembicaraannya ringan dan tetap saling menghormati.

Kenapa bisa demikian? Karena kita bisa berjiwa besar dan berlapang dada. Kalau mereka tidak menyerang kita, kita juga tidak boleh menyerang mereka. Kalau sekedar kritik dengan ilmu dan adab, ya…boleh saja dan itu juga perlu dijawab dengan cara yang serupa.

Tidak bisa kita identikkan tegas dengan ekstrem sehingga membenci segala macam tradisi. Kalau Salafi mengkritik dengan baik-baik, kita juga akan menjawabnya dengan baik-baik. Tapi, kalau ada orang-orang yang mudah memusyrikkan dan mengkafirkan orang-orang yang tawasul dan tabaruk, maka sesungguhnya mereka tidak bisa membedakan antara kemungkaran yang disepakati, yang memang harus dilawan dengan tegas, dan bagian-bagian yang tidak disepakati perihal mungkar tidaknya. Ini adalah persoalan khilafiyah. Sikap terhadapnya berbeda.

***** akhir kutipan *****

Kami (penulis) hanya menyampaikan dan mengingatkan bahwa kaum Syiah, khususnya mereka yang membenci para Sahabat dan kaum Wahhabi yang mengikuti pemahaman Muhummad bin Abdul Wahhab dan Ibnu Taimiyyah adalah sama – sama korban hasutan atau korban ghazwul fikri dari kaum Zionis Yahudi.

Tragedi di Darul Hadits Dammaj Yaman adalah contoh nyata akibat hasutan atau ghazwul fikri yang dilancarkan oleh kaum Zionis Yahudi

Majalah Dakwah Islam “Cahaya Nabawiy” Edisi no 101, Januari 2012 memuat topik utama berjudul “SYIAH-WAHABI: Dua seteru abadi” ,


http://myquran.org/forum/index.php?topic=76007.0
http://www.piss-ktb.com/2012/03/1277-makalah-tanggapan-habib-muhammad.html
.

Wahabi Salafi Menurut Ulama Sunni Kontemporer
Gerakan Wahabi Salafi–yang dikenal dengan ideologi takfir (mengkafirkan, mem-bid’ah-kan, men-syirik-kan sesama muslim)– adalah gerakan yang mengklaim dirinya sebagai gerakan pemurnian akidah (tauhid) dan mengikuti langkah ulama terdahulu atau ulama salaf. Karena itu gerakan ini disebut dengan berbagai nama seperti Wahhabi merujuk pada nama pendirinya Muhammad bin Abdul Wahhab, Ahli Tauhid dan Salafi atau Wahabi Salafi. Di dunia Arab, mereka lebih sering disebut dengan istilah harakatul Wahhabiyah As-Saudiyah (حركة الوهابية السعودية) atau gerakan Wahabi Arab Saudi karena memang didirikan dan berpusat di Arab Saudi.
Banyak ulama non-Wahabi yang memberi nilai negatif pada gerakan ini. Tidak mengherankan, karena gerakan ini tidak memiliki sikap kompromi dan tidak pernah menilai positif kecuali kepada dirinya sendiri. Dan banyak label kurang sedap dialamatkan pada gerakan yang pendanaan penyebarannya didukung penuh oleh kerajaan Arab Saudi ini. Sebutan itu antara lain seperti “gerakan militan”, gerakan ekstrim, ideologi teroris, neo-Khawarij sampai gerakan sesat.
Berikut beberapa pendapat ulama Sunni non-Wahhabi kontemporer terhadap Wahabi Salafi:
1. Dr. Ali Jumah, mufti Mesir mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan militan dan teror. [1]
2. Dr. Ahmad Tayyib, Syekh al-Azhar mengatakan bahwa Wahabi tidak pantas menyebut dirinya salafi karena mereka tidak berpijak pada manhaj salaf.[2]
3. Dr. Yusuf Qardawi, intelektual Islam produktif dan ahli fiqh terkenal asal Mesir, mengatakan bahwa Wahabi adalah gerakan fanatik buta yang menganggap dirinya paling benar tanpa salah dan menganggap yang lain selalu salah tanpa ada kebenaran sedikitpun.[3] Gerakan Wahabi di Ghaza, menurut Qardawi, lebih suka memerangi dam membunuh sesama muslim daripada membunuh Yahudi.[4]
4. Dr. Wahbah Az-Zuhayli (وهبة الزحيلي), mufti Suriah dan ahli fiqh produktif, menulis magnum opus ensiklopedi fiqh 14 jilid berjudul Al Muwsuatul Fiqhi al-Islami (الموسوعة الفقه الإسلامي ) . Az-Zuhayli mengatakan seputar Wahabi Salafi (yang mengafirkan Jama’ah Tabligh): “mereka [Wahabi] adalah orang-orang yang suka mengkafirkan mayoritas muslim selain dirinya sendiri.”[5]
5. KH. Agil Siradj, ketua PBNU, mengatakan dalam berbagai kesempatan melalui artikel yang ditulisnya, wawancara tv, dan seminar bahwa terorisme modern berakal dari ideologi Wahabi.[6]
6. Syekh Hisyam Kabbani, ketua tariqah Naqshabandi dunia, mengatakan bahwa Wahabi Salafi adalah gerakan neo-Khawarij.[7] Yaitu aliran keras yang menghalalkan darah sesama muslim dan terlibat dalam pembunuhan khalifah ke-3 Utsman bin Affan.
========================
CATATAN DAN RUJUKAN
[1] لكننا لم نر من السلفيين الحاليين سوى التشدد والإرهاب والتعصب والدم “Yang saya lihat dari [Wahabi] Salafi hanyalah [gerakan] ekstrim, teror, fanatik dan [haus] darah.” Lihat detailnya:www.anbacom.com/news.php?action=show&id=8028.
[2] Lihat wawancaranya di:http://www.youtube.com/watch?v=N_vrTRXujBM
[3] هو التعصب له ضد الأفكار الأخري وهو قائم علي المذهب الحنبلي، ولكنهم لا يرون ولا يؤمنون إلا برأيهم فهم يعتبرون أن رأيهم صواب لا يحتمل الخطأ، ورأي غيرهم خطأ لا يحتمل الصواب Lihat detail: libyan-national-movement.org/article.php?artid=2630
[4] Lihat wawancaranya dengan tv Al Jazeera di: youtube.com/watch?v=y2NcYwEqX7M
[5] الذين يكفرون كما يكفرون أغلب المسلمين غيرهم. Lihat afatih.wordpress.com/2011/12/12/jamaah-tabligh-gerakan-sesat.
[6] Lihat antara lain “Wahabi Mengajarkan Kekerjasan” di: syamsuri149.wordpress.com/2011/12/18/ketua-pbnu-kh-said-agil-siradj-wahabi-mengajarkan-kekerasan/ Dalam artikel tersebut dijelaskan ada 12 yayasan yang didanai Arab Saudi untuk menyebarkan ideologi Wahabi Salafi.
[7] Kabbani mengatakan, “Belakangan ini, beberapa ulama mengritik aliran Wahabi atau “salafî” sebagai kelompok yang secara politik tidak benar. Praktik mengafirkan menjadi ciri utama yang bisa dikenali dari kelompok neo-Khawarij pada masa modern ini. Mereka kelompok yang senang menghantam orang-orang Islam dengan tudingan kafir, bidah, syirik, dan haram, tanpa bukti atau pembenaran selain dari hawa nafsu mereka sendiri, dan tanpa memberikan solusi selain dari sikap tertutup dan kekerasan terhadap siapa pun yang berbeda pendapat dengan mereka. ” Lihat lebih detail:http://groups.yahoo.com/group/Cahaya-Hati/message/2905
http://www.alkhoirot.net/2012/02/wahabi-salafi-menurut-ulama-sunni.html
===
Belajar Islam sesuai Al Qur'an dan Hadits di http://media-islam.or.id

postingan selesai ........

Paham Dan Gerakan Syi’ah Di Indonesia

Kaum Islam di Indonesia Harus Waspada Terhadap Aliran yang SUKA mengKAFIRKAN UMAT ISLAM.
Waspada Usaha kaum KAFIR untuk MEMECAHBELAH UMAT ISLAM !!!
Pandangan FPI Habib Rizieq Syihab terhadap WAHABI dan SYI'AH

Tolak Pekan Kondom Nasional, Masa FPI Minta Menkes Dicopot

Posted by Unknown on Kamis, 05 Desember 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Tolak Pekan Kondom Nasional, Masa FPI Minta Menkes Dicopot
Tolak Pekan Kondom Nasional, Masa FPI Minta Menkes Dicopot
Liputan6.com, Jakarta : Ratusan masa dari Front Pembela Islam (FPI) dan Gerakan Reformis Islam (Garis) melakukan aksi unjuk rasa di depan Kementerian Kesehatan. Mereka menolak dan menentang Pekan Kondom Nasional yang dicanangkan Menkes, Nafsiah Mboi.

Para demonstran yang rata-rata berpakaian serbah putih itu, tumpah ruah di jalur lambat depan Kantor Kemenkes. Tak ayal pengendara sepeda motor dan mobil dialihkan ke jalur cepat.

Dalam aksi itu, masa melakukan orasi-orasinya menentang Pekan Kondom Nasional. Massa menilai, Pekan Kondom Nasional telah melanggar moral Islam di negeri ini.

"Ini program konyol yang dilakukan Menkes. Karena itu kita minta Menkes dicopot. Program ini juga hanya sebagai pengalihan isu dari kasus korupsi besar, seperti Century," kata orator lewat pengeras suaranya di gerbang Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Kamis (5/11/2013).

Pantauan Liputan6.com, para pengunjuk rasa membawa sejumlah atribut dalam aksi ini. Seperti poster, bendera, dan spanduk.

Salah satu spanduk yang dibentangkan bertuliskan 'Hentikan program pekan kondom selamanya'. Spanduk lainnya berbunyi 'Copot dan berhentikan Menskes karena melukai dan mencederai akidah umat Islam.' Sementara ada juga poster yang bertuliskan 'Tolak kondomisasi, sex bebas dan legalissi pekan kondom nasional di NKRI sekarang juga'. (Osc/Ali)

postingan selesai ....

SEPERTINYA SAYA SETUJU BILA MENKES DI GANTI SAJA..... , DIKHAWATIRKAN MENKES INI CALON ANTEK NEGARA KAFIR !!!!!
ISI MENGENAI : Tolak Pekan Kondom Nasional, Masa FPI Minta Menkes Dicopot

MUI Sayangkan Penundaan Jilbab Polwan

Posted by Unknown on Rabu, 04 Desember 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

MUI Sayangkan Penundaan Jilbab Polwan | Dibalik upaya penggagalan pemakaian Jilbab pada Polwan ? | Apa sih Penyebab Susahnya Polwan memakai Jilbab | Kapan Polwan menggunakan Jilbab. 
TEMPO.CO, Jakarta - Majelis Ulama Indonesia (MUI) sangat menyayangkan penundaan penggunaan jilbab di lingkungan Kepolisian. Padahal, Kapolri Jenderal Sutarman sempat menyatakan secara lisan polisi wanita (polwan) boleh mengenakan jilbab. Soal jilbab untuk polwan juga sudah diusulkan sejak era Kapolri Timur Pradopo.

“Ditunda karena alasan apa?” ujar Ketua MUI, KH Amidan Syahberah, ketika dihubungi Tempo, Selasa, 3 Desember 2013. Menurut Amidan, penundaan boleh saja, hanya harus jelas tenggat waktunya. “Dari kapan sampai kapan, supaya ada kepastian hukum.”

Pada 19 November 2013, Sutarman mengizinkan polwan memakai jilbab selama bertugas. Izin diberlakukan mulai 20 November. Namun, pada 29 November, Wakapolri Komisaris Jenderal Oegroseno mengirimkan telegram kepada polda se-Indonesia untuk menunda pemakaian jilbab.

Menurut Amindan, jika penundaan jilbab hanya karena alasan warna, bisa disesuaikan dengan warna seragam utama Kepolisian. “Lalu alasan apalagi,” tutur Amidan. Dia menambahkan, jika penundaan karena politik, “Takut sama siapa? Umat Islam di Indonesia 90 persen,” ucapnya.

Amidan mengungkapkan, pernyataan lisan yang sempat diucapkan Sutarman tentang penggunaan jilbab di Kepolisian sangat menggembirakan. Sebab, hal itu sangat didambakan polwan dan masyarakat. “Terutama umat Islam yang ada di Indonesia,” kata Amidan.


MUI Sarankan Penggunaan Jilbab Polwan Segera Dilaksanakan

MUI Sayangkan Penundaan Jilbab Polwan
suara-islam.com Jakarta (SI Online) - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menyarankan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Pol H Sutarman untuk segera melaksanakan penggunaan jilbab bagi Polwan. MUI menilai penundaan penggunaan jilbab oleh Polwan telah merusak citra Polri.

"Saya kira secepatnya saja. Ngga ada masalah itu. (Apalagi jika sampai) Digagalkan, sangat tidak etis. Polri citranya tidak bagus di masyarakat," ungkap Ketua MUI Pusat KH Ma'ruf Amin saat berbincang dengan sejumlah wartawan di Kantor MUI, Jl Proklamasi, Jakarta Pusat, Selasa (3/12/2013).

Menyinggung tentang penundaan pemakaian jilbab oleh Polwan, Kiyai Ma'ruf mengaku belum tahu alasan sesungguhnya dari Polri. Tapi, jika alasannya benar sesuai yang dikatakan Kapolri maupun Wakapolri bahwa penundaan itu untuk penyeragaman, Kiyai Ma'ruf menilai tidak masalah.

"Tapi kalau karena alasan-alasan yang lain, penundaan untuk memperlambat saya kita tidak etis," tegasnya.

Jilbab Kebutuhan Masyarakat

Menurut Kiyai Ma'ruf, penggunaan jilbab kini telah menjadi kebutuhan masyarakat. Termasuk kebutuhan Polwan sendiri.

"Sekarang itu orang agamanya makin sadar. Pakaian, makan, minum (minta) sesuai agama. Jilbab sudah jadi tuntutan masyarakat, karena itu (lahir dari) kesadaran keagamaan," jelas Ketua Dewan Syariah Nasional (DSN) ini.

Soal kemungkinan adanya pihak-pihak yang tidak senang dengan lahirnya kebijakan Polwan berjilbab, Kiyai Ma'ruf mengakui itu pasti ada. "Yang tidak senang tentu saja ada," katanya.

Meski ada pihak yang tidak senang, anggota Mustasyar PBNU ini mengingatkan bahwa berjilbab adalah bagian dari keinginan masyarakat. "Sekarang kita lihat di kamus, sekolah, universitas umum justru banyak yang berjilbab. Di jalan orang yang berjilbab juga lebih banyak," tandasnya.

red: shodiq ramadhan

postingan selesai ........


Intelehjen InfoBenar :
Negara yg perlu di CURIGAI atas PENUNDAAN POLWAN BERJILBAB ADALAH NEGARA KAFIR AMERIKA DAN AUSTRALIA !!!!!

Logikanya :
  1. Australia dan Amerika Menyadap Presiden SBY dan orang penting di sekitarnya.
  2. Kita sebagai RAKYAT BERHAK TAU APA ISI HASIL SADAPAN AUSTRALIA
  3. BISA JADI ISI DARI SADAPAN ITU ADALAH BUKTI KORUPSI !!!!
  4. kemungkinan AKHIRNYA TERJADI BARTER KEBIJAKAN SUPER KEBUSUKAN
  5. kita perlu YAKIN BILA INDONESIA SEMAKIN DEKAT DENGAN SYARIAH ISLAM KHUSUSNYA DI KUBU MILITER MAKA AMERIKA DAN AUSTRALIA AKAN BERUSAHA MATI-MATIAN UNTUK MENGGAGALKANNYA !!!!
  6. kemungkinan ISI BARTER SADAPAN ITU DITUKAR DENGAN PENGGAGALAN POLWAN BERJILBAB !!!!  BILA INDONESIA GAGAL MEMBUAT POLWAN LEPAS JILBAB MAKA KEMUNGKINAN ISI SADAPAN AKAN DI BONGKAR DAN DILEPAS BEBAS !!!!!!
  7. tentu kemungkinan BANYAK PEJABAT YANG KETAKUTAN !!!!!
MASYARAKAT PERLU MENCATAT SIAPA SAJA YG BERUSAHA MENGULUR-NGULUR WAKTU POLWAN MENGGUNAKAN JILBAB,  TENTU MENGULUR YG SIFAT DAN TUJUANNYA BAKAL TERLALU LAMA DAN AKHIRNYA GAGAL !!!!!
MEREKA ADALAH PARA KAFIR DAN MUNAFIK ANJING BANGSAT !!!!!
MASYARAKAT PERLU TAU SIAPA PEJABAT KEPOLISIAN YG PENUH KEMUNAFIKAN DAN ANTEK KAFIR BABI !!!!!!

KITA LIHAT ....  BERAPA LAMA POLWAN BERJILBAB.

PADAHAL SAYA SANGAT YAKIN 1000% POLWAN MAMPU MEMBELI JILBAB, DASAR PARA PENGHAMBAT MENUJU GAGAL BANGSAT ANJING BABI MONYET TAEK KUCING !!!!

APA SUSAHNYA PARA PEMBERI KEBIJAKAN, TINGGAL BILANG MODENYA DAN WARNANYA APA MAKA PARA POLWAN TENTU BISA MEMBELI SENDIRI.  SUDAH TIDAK ADA ALASAN LAGI UNTUK MENUNDA LAMA COK JANCOK !!!!!  RAKYAT HARUS TAU SIAPA PEMBUAT TULISAN PADA TELEGRAM RAHASIA ITU !!!! SURUHAN SIAPA DIA COK TAEK !!!! SAYA YAKIN INI TEKANAN DARI AMERIKA DAN AUSTRALIA  KAFIR !!!!

tentu MUI Sayangkan Penundaan Jilbab Polwan

Pembuat Virus AIDS dan Tujuan Membunuh

Posted by Unknown on Senin, 02 Desember 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Pembuat Virus AIDS dan Tujuan Membunuh
Pembuat Virus AIDS dan Tujuan Membunuh | Pembuatan AIDS adalah Upaya Merusak Kesehatan & Populasi Manusia | Siapa yang Membuat Virus HIV/AIDS ? | Senjata HIV AIDS dibuat manusia ? | Target Serangan Virus AIDS.
(KompasIslam.Com) – Hingga akhir tahun 1960-an, ilmuwan-ilmuwan di bawah pengawasan Central Intelligence Agency (CIA) di Divisi Operasi Khusus Fort Detrick, Laboratorium dengan Keamanan Tingkat Tinggi mulai memperoleh kemajuan yang signifikan dalam pengembangan penyakit-penyakit yang menyerang sistem imun tubuh.

Pada tahun 1969, Dr. Robert MacMahan dari Departemen Pertahanan meminta dan menerima $10 juta dana dari kongres AS untuk mengembangkan agen biologi buatan yang tidak ada imunitas alami yang dapat menahannya.

Dr. MacMahan mengatakan kepada Kongres: “Ada dua hal tentang bidang agen biologi yang ingin saya sebutkan. Pertama adalah kemungkinan kejutan teknologi. Biologi Molekuler adalah bidang yang berkembang sangat cepat dan ahli-ahli biologi terkenal percaya bahwa dalam periode waktu 5 hingga 10 tahun akan sangat mungkin diciptakan suatu agen biologi buatan, suatu agen yang secara alami tidak ada, dan di mana imunitas alami pun tidak ada”.

“Dalam waktu 5 hingga 10 tahun, sangat mungkin untuk diciptakan mikro organisme penyakit yang dapat dibedakan dalam aspek-aspek tertentu dari organisme-organisme penyakit lainnya. Yang terpenting dari semua ini adalah penyakit tersebut kebal terhadap proses imunisasi atau terapi apa pun di saat kita hendak melepaskan diri dari penyakit ini”.

“Tujuan dari penelitian seperti ini sangat jelas. Penelitian ini (disetujui dan didanai oleh Kongres) untuk menciptakan kuman penyakit yang dapat mengurangi populasi suatu wilayah besar dengan cara membunuh ratusan juta orang laki-laki, perempuan, dan anak-anak, sehingga menghapuskan seluruh populasi tersebut”. (Demikian ucapnya -red)

Di tahun 1970, pendanaan disetujui oleh DPR (H.R./House of Representative) 15090 dan AS dengan cepat melakukan usaha yang intensif untuk mengembangkan “ethnic weapons”. Proyek ini di bawah pengawasan CIA dan dilaksanakan oleh laboratorium-laboratorium gabungan di universitas-universitas dan perusahaan-perusahaan, juga Divisi Operasi Khusus di Fort Detrick, sebuah fasilitas senjata biologi rahasia milik Angkatan Darat.

Dan di dalam CIA, “proyek ethnic weapon” ini merupakan bagian dari program rahasia yang dikenal dengan MKNAOMI yang dijalankan bersama-sama dengan “The Special Virus Cancer Program”, yang didanai oleh National Institutes of Health (NIH).

Sangat penting untuk memahami pada titik ini bahwa melalui NIH, fasilitas riset lain juga terlibat dalam pembuatan senjata biologi ini. Kelompok ini di antaranya adalah Yale Ground Zero For The Secret Order of the Brotherhood of Death (Skull and Bones), Percy Rockefeller, dan Harriman sebagai anggota.

Merk Pharmaceuticals telah bekerjasama dengan CIA sejak 1940 dan juga terlibat dalam penciptaan senjata-senjata biologi ini. Pada titik ini sangat jelas bahwa pemerintah AS mensponsori dan mendanai penelitian untuk menciptakan virus patologi yang dapat menyerang dan menghancurkan sistem imun tubuh.

Menurut Jakob Segal, seorang Profesor Biologi di Humboldt University di Jerman, HIV/AIDS diciptakan di Fort Detrick, Maryland, dengan cara menggabungkan genom viral dari VISNA dan HTLV-i, karena keduanya hampir identik dengan HIV genome.

Jakob Segal menjelaskan bahwa analisis struktural dengan melakukan maping terhadap genome membuktikan bahwa HIV lebih mirip VISNA (virus domba yang ditemukan di Islandia antara tahun 1930-an dan 1950-an) dibandingkan dengan virus-virus lainnya dengan perbedaan hanya sekitar 3 %.

Segal menjelaskan kembali bahwa HIV tercipta antara akhir 1977 dan musim gugur 1978. Pada 1978, Centers for Disease Control (CDC) mulai mengeluarkan advertansi bagi homoseksual yang ingin berpartisipasi dalam “percobaan vaksin hepatitis B”. Percobaan pertama yang dilakukan oleh CDC adalah di New York, Los Angeles, dan San Fransisco, pada tahun yang sama.

Pada tahun 1981, kasus AIDS pertama diketahui terjangkit pada laki-laki homoseksual di New York, Los Angeles, dan San Fransisco, membangkitkan spekulasi bahwa AIDS mungkin telah ditularkan melalui vaksin hepatitis B. Bukti-bukti menunjukkan bahwa suatu variasi dari AIDS telah ada sejak awal 1957.

Pada 1957, pada saat melakukan eksperimen polio, Dr. Hillary Koprowski menggunakan tisu ginjal monyet yang telah dijangkiti virus yang dekat dengan AIDS, SV40, kemudian mengawasi proses injeksi vaksin yang telah terkontaminasi tersebut terhadap ratusan ribu orang negro Afrika.

SV40 adalah salah satu dari beberapa organisme viral yang menjanjikan yang telah diisolasi oleh seksi virus di Fort Detrick Center for Biological Warfare Research, sebuah fasilitas riset gabungan yang didanai oleh CIA, Rockefeller Foundation, dan NIH. Dipercaya bahwa SV40 dapat ditransformasikan menjadi virus yang dapat menyerang dan menghancurkan sistem imun manusia.

Dr. Koprowski mengakui telah mengelola pelaksanaan injeksi polio, namun dia menolak tuduhan bahwa ia terlibat dalam penciptaan virus AIDS. Tanpa menghiraukan penolakannya, bukti-bukti telah cukup untuk menunjukkan bahwa titik ala dari epidemi AIDS ini adalah Afrika Tengah. Di sini merupakan tempat dilakukannya vaksin polio melalui mulut yang dilakukan terhadap lebih dari 300.000 orang Afrika pada tahun 1957 hingga 1960 oleh Dr. Koprowski.

Dr. Koprowski dan Stanley A. Plotkin berkata, “Tidak ada sel simpanse yang kami gunakan dalam membuat OPV (oral polio vaccine),” dan lebih lanjut mengatakan bahwa demografi dari sebaran penyakit tersebut di Afrika Tengah dapat dijelaskan dengan faktor lain yang tidak berhubungan dengan prosedur vaksinasi.

Penting untuk disadari bahwa kalimat yang mereka gunakan untuk menolak tuduhan adalah dengan menggunakan “tidak ada sel simpanse”, mereka tidak menyangkal menggunakan sel-sel monyet, sebagaimana yang dituduhkan pada mereka. Lagi pula, simpanse bukan monyet, mereka adalah kera, dan kemungkinan seorang ahli dalam bidang ini tidak mampu membedakan antara keduanya adalah nol persen.

Rockefeller, Harriman, kakak-beradik Dulles, Prescott Bush, George H.W. Bush, semua adalah penganjur pengendalian populasi, pengendalian kelahiran, dan eugenics. Kelompok Dunia Baru yang rasialis ini sangat was-was terhadap jumlah penduduk kulit hitam yang meledak. Dengan kata lain, jika terlalu banyak orang kulit hitam di dunia ini, maka akan mengancam ideologi rasialis mereka.

Hingga hari ini tidak ada (atau tidak diketahui) penyembuh dari HIV/AIDS ini. Obat-obat AIDS yang diberikan kepada pasien positif HIV/AIDS tidak menyembuhkan penyakitnya, tetapi hanya memperpanjang masa hidupnya. Hal ini justru akan memungkinkan untuk menularkan penyakit tersebut kepada orang-orang yang lebih banyak dalam jangka waktu yang lebih panjang.

Jika ini terus berlanjut, maka ada kemungkinan orang Negro Afrika akan musnah di masa yang tidak lama lagi. Apakah Anda hendak menerima fakta ini atau tidak, tetapi orang Negro Afrika akan menjadi spesies yang terancam, kecuali jika obat bagi penyembuhan AIDS dapat ditemukan sekarang juga.

Berdasarkan fakta, hingga 30 % dari seluruh orang dewasa di beberapa area di Afrika telah terjangkit HIV/AIDS dan juga fakta bahwa epidemi ini menjadi sangat tidak terkontrol dan hanya akan menjadi lebih buruk lagi.

Kesimpulan yang logis adalah pada generasi yang akan datang hampir semua orang dewasa Afrika terjangkit HIV dan tidak akan ada lagi generasi seterusnya karena orang kulit hitam Afrika akan musnah. Faktor utama yang terus menghidupkan epidemi HIV adalah justru dari obat-obatan yang digunakan untuk merawat mereka.

Obat-obatan ini dan cara pemakaian yang salah (biasanya oleh dokter-dokter tak dikenal) dapat menimbulkan mutasi HIV lain yang lebih ganas dan berbahaya dan kerusakan-kerusakan yang mematikan.

Pada September 2001, sebuah studi tentang obat natural dipublikasikan, bahwa dilaporkan, “Keberadaan HIV yang resisten terhadap obat sudah sangat tinggi dan akan terus meningkat.” Dengan kata lain, HIV menjadi semakin resisten terhadap obat-obatan yang sekarang ini diberikan kepada penderita sehingga membuat penyakit menjadi semakin lama berada di dalam tubuh manusia dan bukannya sebaliknya.

Sejak Perang Dunia II, sudah menjadi cita-cita keluarga Bush dan kroninya untuk mengurangi jumlah penduduk berkemampuan lebih rendah. Afrika adalah satu dari mereka dengan “kemampuan yang rendah”. Dengan menghilangkan populasi Afrika, sumber daya alam mineral yang terkandung di dalamnya dapat dieksploitasi, dan pada saat yang bersamaan mengurangi jumlah penduduk dunia.

Nobel menyebut AIDS sebagai “senjata penghancur masal”. (9 Oktober 2004) Wangari Maathai mengulangi pernyataannya bahwa virus AIDS adalah suatu agen biologi yang sengaja diciptakan: “Sebagian orang mengatakan bahwa AIDS datang dari monyet, tapi saya meragukan hal itu, karena kami telah hidup bersama-sama monyet sejak zaman dahulu kala, yang lain mengatakan bahwa hal itu merupakan kutukan Tuhan, tapi saya katakan tidak mungkin. Saya tidak memiliki gambaran siapa yang menciptakan AIDS dan apakah itu merupakan suatu agen biologi atau bukan. Tapi saya tahu pasti hal-hal seperti itu tidak begitu saja jatuh dari langit. Saya selalu berpikir bahwa sangat penting untuk menyampaikan kebenaran kepada setiap orang, tapi saya rasa ada beberapa kebenaran yang tidak boleh terlalu diekspos”.

Arab dan negara Afrika Utara juga dianggap sebagai Negara Dunia Ketiga. Tertangkap tangan (Penguji Irlandia) 20 Desember 2006. Enam pekerja kesehatan asing yang dipenjara di Libya selama beberapa tahun karena tuduhan secara sengaja menjangkiti anak-anak dengan virus AIDS kemarin dijatuhi hukuman mati karena suatu kasus yang telah menyulut amarah dunia internasional…

The Times (Enam tertuduh karena menyuntikkan AIDS pada anak-anak) 20 Desember 2006. Enam perawat yang berangkat ke Libya untuk merawat anak-anak yang sakit menghadapi hukuman mati tadi malam setelah terbukti bersalah secara sengaja menyuntikkan 426 pasien anak-anak dengan HIV.

Amerika Serikat dan Eropa meminta Libya untuk membebaskan perawat-perawat Bulgaria dan seorang dokter Palestina dengan “mengingatkan” Libya bahwa hal tersebut dapat mempengaruhi hubungan diplomatik. Kematian seorang anak laki-laki usia 8 tahun minggu ini telah menambah jumlah kematian menjadi 53 sebagai akibat epidemi yang terjadi di Benghazi yang merupakan suatu usaha untuk membunuh Muslimin.

Keenam perawat tersebut merupakan sebagian dari sejumlah besar sukarelawan yang datang ke Rumah Sakit Al-Fateh pada tahun 1998. Pada tahun itu, 426 anak-anak dikonfirmasi mengidap HIV positif. Tahun berikutnya 19 orang asing tersebut ditahan, tetapi 13 akhirnya dilepaskan.

Amerika Serikat dan Eropa dalam Times; mengingatkan Libya “bahwa peraturan itu dapat mempengaruhi hubungan.” Yang pasti peraturan mereka akan berpengaruh terhadap hubungan dengan menciptakan negara yang lebih sehat dan menakut-nakuti pelayan iblis.

Saya menghormati Libya karena telah berdiri dengan berani melawan demi kebenaran bagi kemanusiaan! “Siapa yang memberikan mereka tugas yang keji ini?” Pemimpin Libya, Gadhafi, mempertanyakan hal ini dalam konferensi AIDS di Nigeria pada April 1999. “Sebagian mengatakan bahwa itu pekerjaan CIA. Yang lain mengatakan Mossad, mereka melakukan eksperimen terhadap anak-anak itu.” (Moammar Gadhafi) Epidemi di Libya dimulai setelah misi WHO untuk mengimunisasi anak-anak pada tahun 1998. [Muaskar]

(Sumber: Jerry D. Gray, “Deadly Mist: Upaya Amerika Merusak Kesehatan Manusia” (diterjemahkan oleh Tetra Suari), Jakarta: Sinergi, Cet. I, Januari 2009, hal. 91-110)

Postingan selesai .....

Aku sebenarnya sudah curiga dengan kedok IMUNISASI terhadap Anak-anak di Indonesia !!!! saya SANGAT KHAWATIR TERHADAP GENERASI ANAK KECIL INDONESIA !!!!! PEMERINTAH HARUS WASPADA TERHADAP DATANGNYA OBAT IMUNISASI DARI NEGARA-NEGARA KAFIR !!!!!!! PEMERINTAH JANGAN BODOH DAN GOBLOK MENYIKAPI INI !!!!!  BILA INFORMASI DIATAS BENAR DAN TERBUKTI MAKA TIDAK MENUTUP KEMUNGKINAN NEGARA INDONESIA MAYORITAS ISLAM AKAN DI SERANG SENJATA VIRUS HIV/AIDS !!!!  WASPADA !!!! CEK DULU OBAT IMUNISASI HASIL IMPOR DARI NEGARA KAFIR !!!!!

BAGI LAKI-LAKI YG SUDAH TAU TERKENA AIDS, JANGAN DI TULARKAN KE ISTRINYA. BILA HAMIL BISA JADI ANAKNYA JUGA TERPAKSA TERKENA PENYAKIT AIDS, MENYEDIHKAN !!!!! IRONIS !!!!!

APAPUN YG DATANG DARI AMERIKA DAN SEKUTU HARUS DI WASPADAI !!!!!!   NEGARA MAYORITAS SEHARUSNYA BEKERJASAMA DENGAN NEGARA ISLAM !!!!!  AWAS WASPADA BAHWA NEGARA KAFIR ADALAH MUSUH DALAM SELIMUT !!!!!!!!!!   BUKTINYA KASUS SADAP MENYADAP !!!!! SBY DI PECUNDANGI DENGAN AUSTRALIA KARENA BOBOL TERSADAP !!!!!! LUCU ......

Pembuat Virus AIDS dan Tujuan Membunuh

Ayah Julia Perez Meninggal Dunia

Posted by Unknown on | 0 komentar | Leave a comment...

Ayah Julia Perez Meninggal Dunia | Bapak yulia peres wafat / mati | Jupe | Jalaran Penyebab Proses.
INILAH.COM,Jakarta - Angkasa Jaya, Ayah Julia Peres meninggal dunia. Jupe terlihat lemas merebahkan badannya di salah satu tempat tidur di area ICU RS POLRI.

"Baru meninggal sekitar 21.30 wib. Nanti akan dibawa ke rumah kakaknya, Dahlan di Cijantung," kata Ros ponakan almarhum ayah Jupe, di RS Sukamto, Kramatjati, Jakarta Timur, Senin (02/12/2013).

Seluruh keluarga Julia Perez berangsur-angsur datang menghadir di rumah sakit. Hingga kini Jupe dan Gaston masih berada di dalam ruang ICU.
Oleh: Mia Umi Kartikawati

Ayah Jupe Sakit dan Jupe rencana tetap gelar Lamaran dg Gaston

okezone.com JAKARTA- Kabar duka datang Julia Perez (Jupe). Ayah Jupe, Angkasa Jaya meninggal dunia setelah sempat kritis dan dirawat di rumah sakit di kawasan Kramat Jati, Jakarta.

Kabar duka itu disampaikan langsung oleh Jupe melalui akun Twitternya. Jupe pun meminta doa agar dosa ayahnya diampuni dan kesalahannya dimaafkan.

"Innalilahi wa innalilahi rojiun..Ampuni segala dosa dan kesalahan papa *pray*," tulis Jupe dalam akun Twitternya, Senin (2/12/2013).

Sebelumnya, Jupe memang sempat mengungkapkan ayahnya sedang terbaring lemah di rumah sakit. Namun, Jupe tetap berencana menggelar lamaran dengan Gaston pada 4 Desember 2013. Pasalnya, Jupe sudah beberapa kali harus menunda lamaran dengan pria asal Argentina itu.

"Kita berdoa papa sembuh, dan minta pakai kursi roda, kalau enggak bisa kita akan ke rumah sakit. Semoga papa ngerti kondisi enggak mungkin cancel, ini terakhir menyangkut segalanya. Ya tetap 4 Desember," ungkap Jupe, siang tadi.
(rik)

Penyebab Jalaran Teori Proses Terjadi Takdir tentu Fenomena

Liputan6.com, Jakarta : Kabar duka datang dari artis kontroversial Julia Perez (Jupe). Ayahanda Jupe, Angkasa Jaya meninggal dunia, Senin (2/12/2013) malam di Rumah Sakit Polri Keramat Jati, Jakarta. Sebelumnya, Angkasa dibawa ke rumah sakit, Minggu (1/12/2013) dan mengalami koma karena penyakit liver.

Kabar kepergian ayahanda Jupe ramai di media sosial. Jupe sendiri, melalui akun Twitter @juliaperrez menyampaikan kabar duka mengenai kepergian sang ayah.

"Innalilahi wa innalillahi rojiun..ampuni segala dosa dan kesalahan papa," tulis Jupe sekitar pukul 21.55 WIB.

Sementara itu dari pantauan Liputan6.com, Jupe terlihat sudah ada di RS Polri Keramat Jati untuk mengurus jenazah sang ayah. Jupe terlihat begitu sedih dengan kepergian sang ayah tercinta.

postingan selesai ......

Innalillahi wainnailaihi rojiuuun..... semua datang dari ALLOH SWT dan kembali kepadanya.

Semua ada Hikmahnya ....
Coba kita pantau, apakah julia perez bisa memetik ilmu dari kematian. Apakah setelah meninggalnya beliau akan membuat jupe sadar untuk tidak menonjolkan payudara di depan masyarakat generasi muda indonesia ?????? apakah jupe akan menikah dengan lelaki KAFIR ????? apakah Jupe akan Goyang EROTIS didepan TV yg di tonton juataan generasi muda bangsa Indonesia yg mayoritas MUSLIM ????

Ingatlah !!!! Ayah anda ada di alam kubur, dan malaikat siap siaga.  BILA JUPE TETAP JOGET MAKSIAT DI DEPAN GENERASI ISLAM, APAKAH JUPE TIDAK KASIHAN BILA SETIAP GOYANGANNYA MAKA MALAIKAT SIAP MENYIKSA AYAH ANDA ??????

UNTUK ITU JUPE SEGERA MENGAMBIL HIKMAH, DAN SEMOGA AYAH JUPE MENDAPAT TEMPAT YG OK. (Hanya Alloh SWT yg Maha Adil).

Ayah Julia Perez Meninggal Dunia

Inilah Alasan Hakim MA Menghukum dr Ayu

Posted by Unknown on Selasa, 26 November 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Inilah Alasan Hakim MA Menghukum dr Ayu
Inilah Alasan Hakim MA Menghukum dr Ayu | Keadilan Pasien Oleh MA terhadap Vonis Dr. Ayu | Keadilan Pengadilan MA terhadap hasil dr Ayu | Apakah dr Ayu malpraktek atau tidak.
TEMPO.CO, Jakarta - Aksi solidaritas dari ribuan dokter yang akan melakukan longmarch dari Tugu Proklamasi, Bundaran Hotel Indonesia, dan ke kantor Mahkamah Agung pada Rabu, 27 November 2013 menyedot perhatian masyarakat. Aksi ini dipicu oleh vonis Mahkamah Agung yang menghukum dokter Dewa Ayu Sasiary Prawan, 38 tahun, beserta dua koleganya. Mereka divonis 10 bulan penjara.

Kasus dokter Ayu dan kawan-kawan berawal dari mening­galnya pasien yang mereka tangani, Julia Fransiska Maketey, di Rumah Sakit R.D. Kandou Malalayang, Manado, Sulawesi Utara, pada 10 April 2010. Keluarga Julia menggugat ke pengadilan negeri. Hasilnya, Ayu dan kedua rekannya dinyatakan tidak bersalah. Namun, di tingkat kasasi, ketiga dokter itu divonis 10 bulan penjara. (Baca: IDI Yogyakarta Desak Ada Peradilan Profesi)

Majelis hakim kasasi memvonis Dewa Ayu Sasiary serta dua rekannya, Hendy Siagian dan Hendry Simanjuntak, bersalah saat menangani Julia Fransiska Maketey. Julia akhirnya meninggal saat melahirkan. Berikut ini pertimbangan majelis kasasi seperti yang tercantum dalam putusan yang dirumuskan dalam sidang 18 September 2012. (Baca juga Malpraktek atau Tidak dr Ayu? Lihat Empat Poin Ini)

1. Julia dinyatakan dalam keadaan darurat pada pukul 18.30 Wita, padahal seharusnya dinyatakan darurat sejak ia masuk rumah sakit pada pagi hari.

2. Sebagian tindakan medis Ayu dan rekan-rekannya tidak dimasukkan ke rekam medis.

3. Ayu tidak mengetahui pemasangan infus dan jenis obat infus yang diberikan kepada korban.

4. Meski Ayu menugasi Hendy memberi tahu rencana tindakan kepada pasien dan keluarganya, Hendy tidak melakukannya. Ia malah menyerahkan lembar persetujuan tindakan yang telah ditandatangani Julia kepada Ayu, tapi ternyata tanda tangan di dalamnya palsu.

5. Tidak ada koordinasi yang baik dalam tim Ayu saat melakukan tindakan medis.

6. Tidak ada persiapan jika korban mendadak mengalami keadaan darurat.

Tuduhan itu dinilai tak berdasar oleh O.C. Kaligis pengacara dokter Ayu. O.C. Kaligis menilai putusan Mahkamah Agung tak berdasar. Dalam persidangan di pengadilan negeri, kata Kaligis, sudah dihadirkan saksi ahli kedokteran yang menyatakan Ayu dan dua rekannya tak melakukan kesalahan prosedural. Para saksi itu antara lain Reggy ­Lefran, dokter kepala bagian jantung Rumah Sakit Profesor Kandou Malalayang; Murhady Saleh, dokter spesialis obygin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta; dan dokter forensik Johanis.

postingan selesai.....

Putusan MA tak berdasar NDASMU IKU....... MA itu bukan sembarangan dalam mengambil keputusan CONG.   NAMAE PENGACARA jelas yg di bela Kliennya !!!! MAKAN TOU UANG DUNIA SAMPAI PERUT KAMU MUNTAH !!!!!
DOKTER YG BENAR-BENAR MEMBANTU TULUS UNTUK MENGOBATI PASIEN INI BARU TUGAS MULIA .

TAPI KALAU DOKTER HANYA INGIN MENDAPATKAN UANG, YANG PENTING DAPAT UANG BANYAK DARI PASIEN WALAUPUN TIDAK PEDULI KONDISI SAKIT SANG PASIEN INI MERUPAKAN DOKTER BANGSAT ANJING BABI MONYET BUSUK !!!!! TAEK ASUUU

MENGENAL SEPUTAR MAKSUD MASALAH PRIHAL TENTANG MAL PRAKTEK

  • KALAU DOKTERNYA EMPATY DG PERASAAN TINGGI INGIN MENYEMBUHKAN PASIEN DENGAN SEGALA PROSEDUR YG BENAR (TIDAK RAKUS UANG COK !!!) TAPI TERNYATA PASIEN TETAP MENINGGAL MAKA INI BUKAN MALPRAKTEK !!!
  • JIKA DOKTER DENGAN SENGAJA MENYALAHI PROSEDUR DENGAN TERUS MEMAKSAKAN TINDAKAN TANPA PEDULI KESELAMATAN PASIEN DAN AKHIRNYA PASIEN MENINGGAL MAKA INI JELAS MALPRAKTEK !!!! ( RAKUS UANG, YG PENTING UANG BARU DI TANGANI, DASAR BANGSAT !!!!! ANJING BABI !!!!) ATAU BISA JUGA PASIEN DI TERLANTARKAN TANPA MEMILIKI HATI NURANI!!!, PADAHAL PASIEN KONDISI EMERGENCI DARURAT !!!

Dokter Demo Solidaritas

TAEK !!! NIAT KALIAN ITU CARI UANG ATAU MEMBANTU ORANG SAKIT !!!! COK !!!! MENDING KALIAN KELUAR DARI KEDOKTERAN BARU DEMO SAMPAI MENCRET GK PP TAEK !!!!  TUGAS DOKTER ITU MENGOBATI BUKAN DEMO GOBLOOOOOOKKKKKK!!!!!
YA BEGINI BILA DOKTER TIDAK BERHATI NURANI !!!!!  SEKALI LAGI MA ITU BUKAN ORANG BODOH !!!!!  KALAU PARA DOKTER SESUAI PRSEDUR LALU KENAPA MA MENGHUKUM DR.AYU ?????? SADARLAH KALIAN !!!!  INI MENTRI IKUT-IKUTAN !!!!! PREK !!!! URUSI RAKYAT !!!!!  DASAR TAEEEEEEKKKKK   KAAABBBEEEEEHHHHHH !!!!!!!

ANDAIKAN PARA PEJUANG KEMERDEKAAN YG MENINGGAL BISA HIDUP LAGI, MAKA JANGAN SALAHKAN BILA MEREKA AKAN MEMBANTAI KALIAN SEMUA !!!!!!

NB : TUGAS UTAMA DOKTER ITU MENGOBATI ATAU DOMO ??????????? COK COK COK !!!!

artikel : Inilah Alasan Hakim MA Menghukum dr Ayu

MUI Sambut Baik 'Polwan Berjilbab' Asalkan Sesuai Syariat

Posted by Unknown on Minggu, 24 November 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

MUI Sambut Baik 'Polwan Berjilbab' Asalkan Sesuai Syariat
MUI Sambut Baik 'Polwan Berjilbab' Asalkan Sesuai Syariat | Polri Wanita Tidak Dilarang memakai Jilbab | Polisi Wanita Boleh berHijab | Berjilbab yang Baik Dan Benar sesuai Syariat Islam | Hijab Syariah
JAKARTA (voa-islam.com) Wasekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Welya Safitri menyambut baik keputusan Korps Bhayangkara yang akhirnya membolehkan Polwan menggunakan jilbab mulai Rabu ini (20/11).

Contohnya saja, di Aceh sebagai contoh yang baik. Namun ia menambahkan, yang terpenting mengenakan jilbab harus memenuhi tiga syarat. Yakni sesuai syariat, menutup aurat dan tidak menampakkan lekuk tubuh. Welya juga mengimbau agar segera dibuat Peraturan Kapolri (Perkap) agar polwan yang berjilbab atau ingin mengenakan hijab tidak ragu-ragu untuk menutup auratnya.

Sedangkan sikap Kapolri Jenderal Sutarman memberikan jalan tengah kepada polisi wanita (Polwan) untuk berjilbab. Polwan tak perlu lagi menunggu Peraturan Kapolri (Perkap) darinya untuk legal berjilbab. Anggota boleh berjilbab saat dinas asal meniru model dan warna yang sama dengan polwan di Polda Aceh.

Hingga bulan Juni Lalu, Polri merestui polwan untuk menggunakan jilbab saat berdinas. Surat Keputusan Kapolri No Pol : Skep/702/IX/2005 hanya melegalkan polwan di Aceh untuk dapat berkerudung.

    Adalah prakarsa Jenderal Timur Pradopo yang memastikan polwan boleh berjilbab namun hingga ia lengser pensiun belum juga terwujud. Hal ini diakibatkan kekhawatiran akan ada teguran dari atasa apabila mengenakan jilbab.

Jenderal Sutarman mengatakan, polwan tak perlu pusing memikirkan akan adanya teguran kepada mereka bila nekat berdinas menggunakan jilbab. Namun dia mengingatkan, bagi polwan yang hendak berjilbab dapat membeli dan memilih hijabnya sendiri untuk kemudian menggunakannya saat berdinas. Polwan jangan minta jilbab dari kepolisian.

Jilbab Sesuai Tuntutan Syariat Islam

1. Menutup Seluruh Badan Kecuali Yang Dikecualikan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Ahzab: 59).

Ibnu Abbas radhiallahu’anhu mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kata “pakaian” pada ayat di atas adalah “jilbab” dan hal serupa juga dikatakan oleh Ibnu Mas’ud. (Dikeluarkan oleh Abu Dawud dan Al Baihaqi). Dapat pula diketahui di sini, bahwa pemakaian khimar yang dikenakan sebelum jilbab adalah menutupi dada.


2. Bukan Berfungsi Sebagai Perhiasan
Hal ini sebagaimana terdapat dalam surat An Nuur ayat 31,“…Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya…”Ketika jilbab dan pakaian wanita dikenakan agar aurat dan perhiasan mereka tidak nampak, maka tidak tepat ketika menjadikan pakaian atau jilbab itu sebagai perhiasan karena tujuan awal untuk menutupi perhiasan menjadi hilang.


3. Kainnya Harus Tebal, Tidak Tipis
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dua kelompok yang termasuk ahli neraka dan beliau belum pernah melihatnya,

“Dua kelompok termasuk ahli neraka, aku belum pernah melihatnya, suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengan cambuknya dan wanita yang kasiyat (berpakaian tapi telanjang, baik karena tipis atau pendek yang tidak menutup auratnya), mailat mumilat (bergaya ketika berjalan, ingin diperhatikan orang), kepala mereka seperti punuk onta. Mereka tidak masuk surga dan tidak mendapatkan baunya, padahal baunya didapati dengan perjalanan demikian dan demikian.”(HR. Muslim 3971, Ahmad 8311 dan Imam Malik 1421)


4. Harus Longgar, Tidak Ketat
Selain kain yang tebal dan tidak tipis, maka pakaian tersebut haruslah longgar, tidak ketat, sehingga tidak menampakkan bentuk tubuh wanita muslimah. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits dari Usamah bin Zaid ketika ia diberikan baju Qubthiyah yang tebal oleh Rasulullah, ia memberikan baju tersebut kepada istrinya. Ketika Rasulullah mengetahuinya, beliau bersabda,


5. Tidak Diberi Wewangian atau Parfum
Perhatikanlah salah satu sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkaitan tentang wanita-wanita yang memakai wewangian ketika keluar rumah, “Siapapun perempuan yang memakai wewangian, lalu ia melewati kaum laki-laki agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah pezina.”(HR. Tirmidzi). Siapapun perempuan yang memakai bakhur, maka janganlah ia menyertai kami dalam menunaikan shalat isya’.”(HR. Muslim).
Produk yang memang secara tidak langsung dan tidak bisa dihindari membuat pakaian menjadi wangi semisal deterjen yang digunakan ketika mencuci dibolehkan.

6. Tidak Menyerupai Pakaian Laki-Laki

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,“Kesamaan dalam perkara lahir mengakibatkan kesamaan dan keserupaan dalam akhlak dan perbuatan.”Dengan menyerupai pakaian laki-laki, maka seorang wanita akan terpengaruh dengan perangai laki-laki dimana ia akan menampakkan badannya dan menghilangkan rasa malu yang disyari’atkan bagi wanita.


7. Tidak Menyerupai Pakaian Wanita-Wanita Kafir
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Al Hadid [57]: 16)


8. Bukan Pakaian Untuk Mencari Popularitas

“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhrah (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api naar. ”Adapun libas syuhrah (pakaian untuk mencari popularitas) adalah setiap pakaian yang dipakai dengan tujuan meraih popularitas di tengah-tengah orang banyak, baik pakaian tersebut mahal, yang dipakai seseorang untuk berbangga dengan dunia dan perhiasannya, maupun pakaian yang bernilai rendah yang dipakai seseorang untuk menampakkan kezuhudan dan dengan tujuan riya.

Nah Polwan sudah berjilbab, lalu kapan Ibu Presiden berjilbab?  ^_^ Wallahu'alam [ahmad/voa-islam.com]
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Ramai-ramai Polwan Berkerudung

Ramai-ramai Polwan Berkerudung
MuslimahZone.com – Polda Metro Jaya sudah memberlakukan pemakaian seragam dinas berjilbab bagi polisi wanita (Polwan) muslimah. Wakil Kepala Polda Metro Jaya Brigjen Pol Sudjarno berpesan pada Polwan berjilbab agar menjaga sikap.

Jilbab dinilai sebagai salah satu kontrol perilaku. “Jangan sampai pelayanan ke masyarakat berkurang dan tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam jilbab itu. Jangan malah jadi banyak pelanggaran,” imbuhnya.

Saling kontrol antara sesama Polwan, sambungnya, penting untuk ditegakkan. Khususnya kepada Polwan berjilbab dan umumnya seluruh Polwan, etos kerja harus selalu ditingkatkan dan dijaga. Nilai religi di dalam pengenaan jilbab setidaknya bisa mengontrol tertib dan disiplin polwan.

Sebanyak 15 polwan di Polda Metro Jaya memperagakan baju dinas khusus untuk polwan berjilbab. Polwan tersebut memeragakan desain baju dinas Pakaian Dinas Upacara (PDU), Pakaian Dinas Harian (PDH), dan Pakaian Dinas Lapangan (PDL).

Peragaan pakaian dinas untuk Polwan berjilbab itu digelar di Lapangan Lalu Lintas Polda Metro Jaya, dihadiri Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Putut Eko Bayuseno dan Wakapolda Metro Jaya Brigjen Pol Sujarno, serta pejabat teras Polda Metro Jaya dan sejumlah Polwan dari seluruh satuan kerja (satker).

Ramai-Ramai Berkerudung

Setelah Kapolri Jenderal (Pol) Sutarman memutuskan bahwa polisi wanita (polwan) diperbolehkan mengenakan jilbab, para polwan pun beramai-ramai berkerudung. Salahsatunya di Polrestabes Surabaya.

Menurut Setija, di Polrestabes Surabaya terdapat 40 polwan yang mengenakan jilbab saat bertugas. “Di Polrestabes Surabaya dan polsek jajaran terdapat 146 polwan. Dari jumlah itu terdapat 40 polwan yang resmi mengajukan untuk mengenakan jilbab. Kemungkinan jumlah tersebut bisa bertambah,” kata Setija Junianta, Jumat (22/11/2013).

“Ini adalah perintah pimpinan, setiap polwan yang ingin berjilbab, silakan berjilbab,” kata Kapolrestabes Surabaya Kombes Setija Junianta.

Setija menyebutkan, dari 146 polwan yang bertugas di jajaran Polrestabes Surabaya, baik dari Polrestabes maupun polsek-polsek yang ada di Surabaya, ada 40 polwan yang secara kesadaran akan mengenakan jilbab.

(esqiel/dbs/muslimahzone.com)


postingan selesai .....

WOW... SALUT AKU, INI BARU KABAR GEMBIRA, INI BARU SALAH SATU CONTOH KEBEBASAN BERAGAMA YANG SEBENARNYA .   SAYA BERHARAP SEMOGA PARA POLRI SEMAKIN DEKAT DENGAN ALLWOH SWT.

Artikel MUI Sambut Baik 'Polwan Berjilbab' Asalkan Sesuai Syariat

Miras termasuk Narkoba, harus dilarang

Posted by Unknown on Rabu, 06 November 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Miras termasuk Narkoba, harus dilarang
Miras termasuk Narkoba, harus dilarang ! | Minuman Keras Wajib di Larang di Indonesia | Kenapa Miras Berbahaya ? | Miras Merusak Kehidupan | Efek Minum Miras yaitu menjadi Gila | Bahaya Hilang Ingatan Ketika Mabuk Miras.
JAKARTA (Arrahmah.com) - Psikiater Prof. DR. dr Dadang Hawari mengkritik sikap pemerintah yang hingga hari ini tidak melarang peredaran miras (minuman keras) di Indonesia. Padahal miras dalah narkotik dan obat terlarang.

“Miras termasuk Narkoba, harus dilarang,” tegas Dadang dihadapan peserta Seminar Nasional Sehat Tanpa Obat di Auditorium Masjid Raya Pondok Indah Jakarta, Selasa (5/11/2013).

Semua ajaran agama, kata Dadang  tidak membolehkan minuman keras ini. Dia menceritakan negara Barat seperti Rusia saja sudah melarang. Jadi tidak ada alasan agama Islam. Terlebih lagi Indonesia penduduknya mayoritas beragama Islam.

Miras telah banyak membuat kemudharatan pada tatanan kehidupan masyarakat. Dadang menceritakan beberapa pasiennya hancur kehidupannya dari sisi pekerjaan, rumah tangga dan ibadah  seperti sholat. “Pasien saya  yang tadinya sholat menjadi gak sholat, karena miras,” katanya.

Prof Dadang juga memberi alasan tentang keharusan miras itu dilarang. Pemerintah sudah melarang ganja, shabu, putau dan narkoba lainnya, namun kenapa tidak melarang miras.

“Padahal inti narkoba itu ada pada miras,” ujar Prof Dadang.

Dia juga sangat mengkhawatirkan semakin maraknya peredaran miras di minimarket-minimarket.  Sudah banyak korban hingga meninggal dari miras ini. Pemerintah berdosa atas hal itu.

“Dosanya kayak apa itu. Bagaimana negara kita tidak dilaknat Allah?,” kata muballigh populer tahun 70 dan 80 an ini bersama Dr.Tarmizi Taher ini.

(azmuttaqin )

postingan selesai .....

Cara menghilangkan Miras di Indonesia Hingga Tuntas :

  1. Siapkan BOM RUDAL NUKLIR
  2. Arahkan kepada Para PEJABAT PEMBERI KEBIJAKAN !!! DASAR BANGSAT !!!!
  3. SETELAH DI LEDAKKAN MAKA OTAK DI KEPALA MEREKA IKUT HANCUR LEBUR TIDAK TERSISA !!!!
  4. BUANG MAYAT MEREKA KE WC !!!!
  5. GANTI PARA PEJABAT TERSEBUT DENGAN ORANG SEKELAS JOKOWI !!!
  6. MAKA KEBIJAKAN BARU BISA DI RUBAH, SEHINGGA PERATURAN BARU DI BUAT TENTANG LARANGAN MIRAS (NARKOBA) BEREDAR DI INDONESIA !!!
Kalau sekarang ingin merubah aturan, maka jangan mimpi bung !!! karena YG ADA DI OTAK MEREKA ITU UANG !!! CEPAT KAYA !!!! KORUPSI SEBESAR-BESARNYA !!!!!  DASAR ANJING BANGSAT JANCOOOOKKKK !!!!! 2014 PILIH CAPRES YG MEMIHAK RAKYAT, SUKA BLUSUKAN DEKAT DENGAN RAKYAT, SEDERHANA !!!!!

AYO SILAHKAN TAMBAHIN INFO DI ATAS, ATAU BILA SALAH , BILANG YA...
tulisan Miras termasuk Narkoba, harus dilarang

Negara yg Menggunakan Hukum Syariat Islam di Asia Tenggara

Posted by Unknown on Selasa, 22 Oktober 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Negara yg Menggunakan Hukum Syariat Islam di Asia Tenggara yaitu Brunei Darussalam dg Perketat Hukuman Syariat Islam, Penegakan Hukum Alloh oleh Pemimpin Islam disuatu negri hukumnya wajib, ingat ! beda "membuat NEGARA ISLAM dengan MENEGAKKAN HUKUM ISLAM. Indonesia Sangat Cocok menerapkan hukum syariat Islam , karena terlalu banyak para Koruptor ! kita perlu belajar banyak dari Negara Brunai darussalam. berikut update negara berunai darussalam cuplikannya :

Brunei Darussalam Perketat Hukuman Syariat Islam

Negara yg Menggunakan Hukum Syariat Islam di Asia Tenggara
(news.fimadani.com) - Sultan Brunei mengumumkan hukuman lebih tegas sesuai syariat Islam bagi setiap tindak pidana di negeri itu. Hukuman yang dimaksud termasuk hukuman mati dengan cara dirajam bagi para pelaku perzinahan.

Sultan Hassanal Bolkiah yang tercatat sebagai salah satu pria terkaya di dunia, mengumumkan Undang-undang Syariat Islam yang baru dalam pidatonya hari ini. Undang-undang baru ini akhirnya diberlakukan setelah mengalami penggodokan selama beberapa tahun terakhir.

“Diberlakukan untuk enam bulan ke depan dan secara bertahap,” ujar Sultan Bolkiah seperti dilansir AFP, Selasa (22/10/2013).

Berdasarkan rincian kasus-kasus tertentu, hukuman berat yang akan diberlakukan termasuk hukuman rajam bagi para pezina. Juga hukuman potong anggota tubuh bagi kasus pencurian dan hukuman cambuk bagi bermacam tindak pelanggaran mulai dari aborsi hingga mengkonsumsi alkohol.

“Insya Allah, dengan penerapan hukum ini, kewajiban kita kepada Allah sudah terpenuhi,” ucap Sultan yang kini berusia 67 tahun ini.

Penerapan hukum syariat Islam pertama kali dikenalkan di Brunei pada tahun 1996 lalu. Namun sudah sejak lama, negara penghasil minyak ini menerapkan peraturan konservatif, seperti pelarangan penjualan dan mengkonsumsi alkohol di depan publik.

postingan selesai ......
------------------------------------------------------
Negara yg Menggunakan Hukum Syariat Islam
Alasan Kuat Fatin Juara X FACTOR Indonesia

Bagai mana dg para pejabat kita ? SUDAHLAH WAHAI PARA WAKIL RAKYAT !!! CUKUP SUDAH KEJANCOKAN KALIAN !!!   WAHAI WAKIL RAKYAT YG PICIK !!!! KALAU BERANI KALIAN STUDI BANDING KE NEGRI BRUNAI DARUSSALAM TENTANG HUKUM NEGARA !!!! SAYA JAMIN KALIAN SAAT INI PADA GEMETAR BILA MENGGUNAKAN HUKUM SYARIAT ISLAM DI TERAPKAN DI BUMI INDONESIA !!!! WAHAI KAUM KAFIR DI INDONESIA, KALIAN TIDAK USAH TAKUT DENGAN HUKUM SYARIAT ISLAM, JUSTRU PARA PENJAHAT YANG TAKUT KETIKA SYARIAT ISLAM DI TERAPKAN DI INDONESIA !!!!! AYO SEMUA AGAMA DI INDONESIA BERSATU UNTUK MENGGANTI UNDANG-UNDANG NEGARA INDONESIA YG MENGUNTUNGKAN PARA MALING RAKYAT (KORUPTOR) DENGAN HUKUM SYARIAT ISLAM !!!! KALIAN TENANG SAJA, HANYA HUKUMNYA (ISLAM) SAJA YG DIPAKAI, NEGARANYA TETAP INDONESIA , BHINEKA TUNGGAL IKA !!!!!!  PERCAYALAH, PENERAPAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA AKAN MEMBUAT EFEK SANGAT JERA TERHADAP PARA TIKUS NEGARA !!!! DUKUNG PERUBAHAN  HUKUM DI INDONESIA DENGAN HUKUM SYARIAT ISLAM. MAMPUS KALIAN PARA KORUPTOR BILA PENERAPAN HUKUM SYARIAT ISLAM DI TERAPKAN DI INDONESIA !!!!!!!!

bagi yg belum faham, silahkan baca lagi dari awal di postingan ini.  Negara yg Menggunakan Hukum Syariat Islam

Kenapa Ahmadiyah Tidak di Bubarkan

Posted by Unknown on Jumat, 18 Oktober 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Kenapa Ahmadiyah Tidak di Bubarkan
Kenapa Ahmadiyah Tidak di Bubarkan ? sulit dan susah di bubarkan atau memang sengaja dibiarkan sekaligus di pelihara ? bisa jadi aliran ahmadiyah ini pesanan negara kuat yg mencengkram negara indonesia menjadi penyebab utama. parah deh. Saya tidak mengerti apa sih yg ada di OTAK PARA PEJABAT ! memang kita sudah menjadi budak HAM kafir, jadi tindak tanduk pejabat sudah teracuni pemikiran kafir !! coba kita berfikir HAM Islam yg pasti baik dan benar.

Hak Asasi Manusia versi ISLAM penulis admin INFOBENAR.blogspot.com :
  • Membebaskan manusia memilih AGAMA sesuai keyakinan !
  • Umat Islam di Larang MENGHINA AGAMA selain ISLAM !
  • Pemeluk Islam saling Toleransi dengan seluruh umat manusia !
  • Penganut Islam Memberikan Keleluasaan umat non Islam untuk menjalankan Ibadah sesuai agama yg mereka anut.
  • Saling menolong dan menjaga kerukunan sekaligus menciptakan kedamaian
  • dll
Analisa INFO BENAR mengenai kasus Ahmadiyah ini SANGAT JELAS DAN GAMBLANG !!!! ALIRAN AHMADIYAH MENGAKUI ADANYA NABI BARU SETELAH NABI MUKHAMMAD SAW. TAPI AHMADIYAH MENGANGGAP DIRINYA ISLAM !!!
INI JELAS SANGAT KONTROVERSIAL !!!!  JELAS DAN LUGAS BAHWA SELURUH UMAT ISLAM DI DUNIA MENGAKUI NABI TERAKHIR YAITU MUKHAMMAD SAW.
BILA ALIRAN AHMADIYAH MENGAKUI ADANYA NABI BARU MAKA INI JELAS PONODAAN DAN PENGHINAAN SANGAT BESAR TERHADAP AJARAN ISLAM YANG SEBENARNYA !!!! PARAH ....!!

PARA PEMBACA SETIA ARTIKEL WEBSITE INFOBENAR TENTU INGAT KISAH SEJARAH TENTANG NABI PALSU PADA JAMAN KOLIFAH, berikut kisah singkatnya :

" Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi "Ibnu Habib al-Hanafi" yang lebih dikenal dengan nama Musailamah al-Kazab (Musailamah si pembohong), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhammad. Pasukan Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid. Sedangkan Musailamah sendiri terbunuh di tangan Al Wahsyi "

BAGAIMANA TEMAN SEMUA TENTANG AHMADIYAH INI ( NABI PALSU ). MEREKA HARUS DI PERANGI ATAU DIBIARKAN BEBAS MENODAI ISLAM ? LIHAT SEJARAH !!!

terkait penting : Ringkasan Singkat Kesesatan Ahmadiyah

TANGGAPAN ORGANISASI ISLAM DI INDONESIA TERHADAP AHMADIYAH :

  • NU :  "Berkaitan dengan adanya anggota masyarakat warga NU yang mempunyai sudut pandang berbeda tentang Ahmadiyah, PBNU menegaskan bahwa ulama NU sudah menetapkan bahwa Ahmadiyah adalah menyimpang dari ajaran Islam. Masalah Ahmadiyah bukan soal kebebasan beragama dan berkeyakinan, tapi soal penodaan ajaran Islam. Kepada pemerintah, diharapkan untuk segera mengambil langkah-langkah hukum untuk mencegah timbulnya tindakan masyarakat yang anarkis."
  • MUHAMMADIYAH :  INFOBENARsays: SORRY AKU MALES NULIS , JANGAN OMONG BESAR TAPI HASIL NOL YAAA KAMU.
  • FPI: SKB 3 Menteri Banci, Jihad Bubarkan Ahmadiyah Selamanya !
  •   HTI : Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia Muhammad Ismail Yusanto menyatakan pemicu utama bentrok yang sering kali terjadi antara warga dengan jemaah Ahmadiyah adalah ketidaktegasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    SBY hingga sekarang tidak juga kunjung mengeluarkan larangan atau pembubaran Jemaah Ahmadiyah. Padahal dasar hukum yang diperlukan untuk itu sudah lebih dari cukup, baik berupa Fatwa MUI, hasil Kajian Bakorpakem, SKB 3 Menteri maupun tuntutan ormas-ormas Islam.

    “Ketidaktegasan itulah yang membuat Jemaah Ahmadiyah merasa mendapat angin, yang itu kemudian memunculkan gesekan dengan umat Islam di berbagai tempat!” simpul Ismail kepada mediaumat.com, Senin (7/2) sore di Kantor DPP HTI, Jakarta.
  • MUI : "1. Menegaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam).

    2. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran Ahmadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang haq (al-ruju’ila al-haqq), yang sejalan dengan al-Qur’an dan al-Hadis.

    3. Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya."
sip :  Target Tujuan Politik Aliran Syiah

KESIMPULANNYA

SUDAH SAATNYA PEMERINTAH TIDAK LONGAK LONGOK MBAMBLEH, PRESIDEN HARUS TEGAS !!!!
SOAL AHMADIYAH INI BUKAN MASALAH HAM !!!! TAPI PENGHINAAN TERHADAP AJARAN ISLAM !!!!! WES COK BUBARKAN AMHADIYAH GOBLOOOOK !!!!
WAHAI PEMERINTAH !!! KALIAN ITU NUNGGU APA LAGI !!!! JANGAN SAMPAI KALIAN DIANGGAP DUNGU OLEH RAKYAT INDONESIA !!!! KALIAN HARUS TEGAS DAN BERANI MELAWAN PENGARUH GLOBAL KAFIR YG INGIN INDONESIA PECAH PERANG SAUDARA !!!!
NKRI HARUS DI JAGA !!!! HANCURKAN AHMADIYAH DEMI PERSATUAN INDONESIA !!!!

SOLUSI BILA PEMERINTAH MEMBIARKAN DENGAN SENGAJA ALIRAN AHMADIYAH.

BANSER - FPI - HTI dan seluruh organisasi Islam HARUS BERSATU UNTUK JIHAD PERANG TERHADAP ALIRAN AHMADIYAH SEPERTI SEJARAH TERDAHULU !!!!

LALU BAGAIMANA DENGAN MUHAMMADIYAH ?  HALAH PREKETEK , PRET, CROT, TIDAK USAH OMONG TOK KALIAN WAHAI KAUM MUHAMMADIYAH !!!! BUKTIKAN !!!
SAYA CURIGA MUHAMMADIYAH INGIN MERANGKUL AHMADIYAH AGAR MAU MASUK ALIRAN MUHAMMADIYAH ... HAHAHA...... YG IKHLAS KALAU MAU MASUKKAN ORANG KE ISLAM TEMAN. PREK ! BUKTIKAN !!!! MENDING KALAU MAU KEMBALI KE ISLAM MUHAMMADIYAH, BAGAIMANA KALAU NANTI TERBALIK DAN PENGIKUT AHMADIYAH SEMAKIN KUAT, DAN AKHIRNYA MEMBANTAI UMAT MUHAMMADIYAH , HAHAHA... BUMERANG LOU NANTI, WASPADA !!!!

JALAN SATU-SATUNYA YAITU DI INGATKAN DAN BILA MEMBANDEL MAKA BISA JADI KEMUNGKINAN OPSI PERANG JIHAD DI GELORAKAN !!!

Cukup unek-unek admin infobenar menanggapi kebusukan dan bahaya aliran ahmadiyah di indonesia.

penulis : admin www.infobenar.blogspot.com
ide kreatif : infobenar blogger.
nama pemilik : hamba Alloh SWT.

kritik masukan perlu untuk artikel ini, mohon maaf bila ada yg tersinggung, harapan saya agar organisasi muhammadiyah tidak wani selet wedi rai . postingan ulas Kenapa Ahmadiyah Tidak di Bubarkan

Target Tujuan Politik Aliran Syiah

Posted by Unknown on Rabu, 16 Oktober 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Target Tujuan Politik Aliran Syiah di Timur tengah sangat berbahaya, Syiah ingin kuasai kontrol suriah (syiria)  dan irak. perang saudara sunni dan syiah terjadi. Awas aliran sesat. syiah indonesia waspada
(Arrahmah.com) -Saat Saddam Husein tumbang, segera Irak mengadakan revolusi politik dengan dukungan Amerika Serikat (AS). Pemerintahan baru didominasi Syiah. PM baru, Mari al-Maliki, adalah penganut Syiah. Sementara Sunni makin terdesak. Bagi Iran, pemerintahan baru Irak merupakan tanda awal kebangkitan Syiah di Timur Tengah. Banyaknya ulama Sunni yang dieksekusi di Irak menunjukkan revolusi politik yang didukung Iran tersebut bukan kemenangan Islam, tapi kemenangan Syiah dengan dukungan penjajah AS.

Tampaknya, dalam kasus Irak ini, AS lebih menyukai Irak dipimpin Syiah daripada Saddam Husein yang Sunni. Invasi AS ke Irak tahun 2003 kabarnya direstui Iran. Sebab, Irak akan dipersiakan dipimpin dari kaum Syiah. Tidak dipungkiri ada faksi-faksi Syiah yang menentang AS. Hanya saja, perlawanan tidak terlalu signifikan jika dibandingkan pejuang-pejuang Sunni. Jatuhnya Sunni Irak, menjadi keuntungan bersama antara AS dan Iran. Iran, sejak revolusi tahun 1979, sangat berambisi mensyiahkan Irak, sebagai pintu masuk syiahisasi di dunia Arab.

Vali Nasr menganalisis bahwa kemengangan Syiah di Irak merupakan menambah pilar kebangkitan Syiah di Arab. Ia menyebut ada tiga pilar kebangkitan Syiah, Pertama, kemenangan Syiah di Irak, Kedua, pencitraan Iran sebagai pemimpin Arab melawan arus Barat dan Ketiga, dominasi pengaruh Syiah di beberapa Negara, yaitu Lebanon, Saudi, Kuwait, UEA dan Pakistan.

posting Alasan Ulama Islam mengkafirkan Kaum Syi’ah

Kini, pilar pertama dan kedua sudah ditangan Iran. Hanya pilar ketiga, Syiah belum menunjukkan kemenangan. Sekarang inilah, Syiah sedang menggarap pilar ketiga. Pasca revolusi Iran tahun 1979, Iran meletakkan Hizbullah di Lebanon, sebagai basis membangun pilar ketiga. Awalnya, Hizbullah adalah sayap Garda Revolusi Iran, pasukan elit pengawal revolusi Iran yang terkenal tangguh. Di Libanon, Hizbullah sukeses mengangkat citra Syiah dan Iran di dunia Islam. Terutama saat tahun 80-an berhasil membunuh seribu lebih tentara Israel.

Namun, kesuksesan Hizbullah tercoreng karena mereka terlibat sengketa dengan Sunni Lebanon, bahkan pernah dengan pengungsi Palestina di Lebanon. Jika benar-benar, berjuang untuk Islam, kenapa Hizbullah berseteru dengan Sunni Lebanon? Bantuan Iran, menjadikan Hizbullah menjadi tentara tangguh, bahkan militer pemerintah Lebanon kalah kuat.

Geliat gerakan Syiah makin mencolok di Timur Tengah setahun ini, yaitu saat berkecamuk perang saudara di Suriah. Presiden Suriah, Bashar Asad, yang berpaham Syiah Nushairiyah konon mendapat dukungan  dari Iran melawan rakyatnya sendiri yang mayoritas Sunni. Syiah Nushairiyah adalah pecahan sekte Syiah Ismailiyah, sekte Syiah yang pernah mendirikan dinasti Fatimiyah di Mesir.

Perang saudara di Suriah yang kini masih berkecamuk ternyata bukan hanya sengketa politik, tapi juga ideologis. Krisis Suriah juga membangkitan kaum Syiah di Indonesia. Beberapa bulan lalu di Bandung, Garda Kemanusiaan (GK), dikabarkan berencana mengirim relawan ke Suriah. GK yang diindikasi berpaham Syiah berniat membantu diktator Bashar Asad. Ini tentu mengejutkan, sebab semua aktivis Islam menyeru pengiriman relawan kemanusiaan ke Suriah untuk membantu korabn rakyat yang sedang didzalami Bashar Asad. GK menunukkan kepada kita bahwa memang Syiah sedang menggeliat mempersiapkan kebangkitan.

Mencermati sikap politik Iran terhadap krisis Suriah, kita bisa menyimpulkan bahwa Suriah sedang dipersiapkan untuk menjadi Negara Syiah kedua di Arab setelah Irak. Meski berbeda sekte – Suriah berpaham Syiah Nushariyah dan Iran berpaham Syiah Imamiyah, namun dua sekte ini dikategorikan sama-sama Rafidhah. Yang terkenal ekstrim dan militant itu.

Kondisi Suriah hampir sama dengan Irak. Kaum Sunni terus dibantai oleh tentara Suriah. Jika Suriah dan Irak tetapi dikendalikan Syiah, maka dua Negara ini akan menjadi ancaman besar bagi Negara-negara Arab.

Ambisi Iran untuk menjadikan Iran pemimpin dunia Islam sangat ambisius. Ayatullah Khomeini, pemimpin besar revolusi Iran, sudah mentitahkan agar mengekspor revolusinya ke Negara-negar Arab dan Islam di dunia.

Ia sadar bahwa resistensi kaum Sunni sangat besar terhadap Syiah. Maka, Khomeini membuat strategi. Dua di antaranya adalah mencitrakan diri sebagai icon perlawanan terhadap Israel dan Barat dan kedua menggunakan metode taqrib (pendekatan madzhab).

Icon perlawan Khomeini terhadap terhadap Israel dan AS masih sulit dirasionalkan. Alasannya, Ayatullah Khomeini sendiri sebelum revolusi sebenarnya tidak terlalu resisten di Barat. Puluhan tahun  bahkan sejak remaja ia hidup di Prancis, termasuk di masa pengasingan saat Reza Pahlevi memimpin Iran. Baru menjelang revolusi ia pulang ke Iran.  Guru Khomeini sendiri yaitu Ayatullah al-Kashani disebut-sebut adalah agen CIA. Meski Reza Pahlevi, pro-AS, namun kabarnya CIA terlibat dalam revolusi Iran. Selama perang Irak-Iran, Iran diam-diam membeli senjata ke Israel dengan bantuan AS. Kasus ini terkenal dengan “Iran-Gate”.

Sebutan “AS adalah Setan Besar” dari Iran sama sekali tidak membangkitkan AS untuk menginvasi Iran. Padahal Iran sendiri juga menyimpan senjata Nuklir. Bandingkan dengan invasi AS ke Afganistan dan Irak. AS cukup berbekal asumsi, tidak bukti, untuk menyerang kedua Negara itu. Irak dituduh menyimpan senjata kimia. Belakangan tuduhan tidak terbukti. Afganistan diserang tanpa ba bi bu dengan tuduhan melindungi Osama bin Laden.

Ketika pecah perang Irak-Iran selama 8 tahun. Iran mendapatkan keuntungan politis. Pasca perang panjang itu, Irak langsung dimusuhi AS. Bahkan Negara-negara Arab juga terprovokasi Barat memusuhi Irak. Padahal Irak, paling berani melawan Israel. Beberapa rudal Scud-nya mendarat di Tel Aviv, ibukota Israel. Kenyataannya sekarang, Iran tidak pernah terlibat perang langsung dengan AS.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan bahwa bantuan-bantuan Iran terhadap Negara-negara Muslim tidak gratis. Sebab di balik bantuan tersebut mereka membawa misi Syiah. Di Palestina, HAMAS, mungkin saja ‘terpaksa’ dibantu Iran melawan Israel. Namun, jika rasio kita menganalisis sepak terjang gerakan politik Iran seperti di atas, maka bantuan itu tidak gratis. Ada misi besar. Yaitu, seperti kata Vali Nasr, menarik simpati untuk membangun imperium Syiah di Timur Tengah. Irak telah menjadi Syiah, berikutnya siapa lagi…? Yang jelas, lembar sejarah Islam tidak pernah lupa bahwa di Perang Salib II, Syiah berkhianat melemahkan tentara Islam. Maka, Gaza-Palestina tidak boleh jatuh ke tangan Israel dan Syiah. Kita ingin Gaza-Paletina di pangkuan Islam

Sumber: Undergroundtauhid.com

(saifalbattar/arrahmah.com)

postingan selesai .....

Bila anda merasa artikel diatas salah dan tidak masuk di akal, silahkan tulis di komentar !!!
Target Tujuan Politik Aliran Syiah

Game Online PB Menghina Islam

Posted by Unknown on Sabtu, 12 Oktober 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Game Online PB Menghina Islam
Game Online PB Menghina Islam bukan kali ini saja, rupanya mereka ingin terang-terangan menginjak harkat dan martabat kaum Islam lewat Permainan Online, Panitia Game PB memberika EVENT IDUL ADHA, eventnya tidak ada masalah TAPI HADIAHNYA BERUPA TOPENG KAMBING !!! . topengnya tidak ada masalah tapi kenapa harus wajahnya berupa KAMBING YANG MUKANYA SAMA DENGAN PEMBUAT IDE DAN PROGRAMERNYA  PB ???? MEMANGNYA MUKA PEMUDA PELAJAR INDONESIA SERUPA DENGAN KAMBING !!!! BEDA BUNG , WAJAH PEMBUAT IDE DAN PRAGRAMER PB YANG SUDAH LAMA BERBENTUK KAMBING JANGAN DISAMAKAN DENGAN PEMUDA PELAJAR INDONEISA (mayoritas islam). APAKAH KALIAN BELUM PUAS MENGHINA ISLAM ???? mungkin hati dan perasaan PROGRAMER PEMBUAT IDE EVEN PB LEBIH BUSUK DARI BABI DAN ANJING !!!! GAMBAR DIATAS ADALAH WAJAH DARI PEMBUAT IDE EVENT GAME PB "Idul Adha Mission Card" yaitu KAMBING ATAU WEDOOOSSS !!!! DASAR RAIMU WEDOOOOSSSSSS !!!! yang saya KHAWATIRKAN NANTI ANAKNYA JUGA SAMA SEPERTI KAMBING ALIAS WEDOOOOS !!!! ATAU BAPAKNYA PEMBUAT IDE EVENT GAME PB "Idul Adha Mission Card" INI MUKANYA JUGA KAMBING ATAU WEDOOOSSS, ATAU IBUNYA JUGA WEDOOOOSSSSS !!!! JANCOK RAIMU BANGSAT !!! KALAU KELUARGA KAMU KAMBING MAKA JANGANLAH KAMU TULARKAN KE GENERASI MUDA BANGSA INDONESIA !!!!!! MUNAFIK KAFIR ANJING BANGSAT MONYET LOU !!!!!!

Baca Penting Juga :  Game Online Menghina Islam

Wahai Seluruh Pemuda Pelajar dan Orang tua kita harus waspada terhadap kaum MUNAFIK dan KAFIR yang ingin merusak GENERASI MUDA BANGSA INDONESIA LEWAT GAME di Internet, menurut saya para programer pembuat ide di even Idul Adha kali ini sudah keterlaluan, maksudnya begini :
"anda lihat gambar diatas di posisi bawah kanan terdapat kotak-kotak banyak seperti kartu remi, didalam tiap kartu tersebut terdapat misi yang harus diselesaikan, jika semua misi komplit maka pihak game PB akan memberikan HADIAH BERUPA TOPENG KAMBING / WEDOS , coba anda semua berfikir dengan jernih, coba kaitkan misi Idul Adha dengan Muka Kambing ??????  mungkin panitia PB malu terhadap mukanya sendiri yang berbentuk KAMBING atau WEDOS sehingga mereka ingin GENERASI INDONESIA MUKANYA SEPERTI KAMBING JUGA !!!!! SUNGGUH BIADAB MEREKA !!!! PANITIANYA SANGAT BUSUK HATINYA BILA SEMUA YANG SAYA UTARAKAN BENAR-BENAR MEREKA LAKUKAN DENGAN SENGAJA !!!! Kenapa harus topeng muka kambing ?? kenapa tidak topeng bergambar SARUNG COK !!!! DASAR BABI KALIAN PARA PROGRAMER PEMBUAT IDE EVENT KALI INI !!!! JADI KESIMPULANNYA MUKA PANITIA IDE PROGRAMER EVENT PB periode 8 oktober - 22 oktober 2013 BERWAJAH KAMBING / BISA JADI KELUARGANYA KAMBING !!!!

Sekian ulasan sebagai pembelajaran kita sebagai generasi penerus bangsa, kita harus cerdas menyikapi serangan-serangan KAFIR munafik yang ingin menghancurkan generasi muda Indonesia !  MERDEKA !!!
Anda Baca : Game Online PB Menghina Islam

Paham Dan Gerakan Syi’ah Di Indonesia

Posted by Unknown on Rabu, 09 Oktober 2013 | 0 komentar | Leave a comment...

Paham Dan Gerakan Syi’ah Di Indonesia | Taktik Kaum Syiah | Waspada Syiah indonesia | Siasat.
Prolog. Syi’ah secara literal bermakna partisan atau pengikut, sedangkan sebagai sebuah paham atau kelompok ia dilabelkan kepada mereka yang meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah suksesor Nabi Muhammad Saw. dan bahwa kepemimpinan (imamah) tidak akan jatuh kepada selain Ali dan keturunannya. Mereka ini dalam bidang keilmuwan mengikuti madzhab ahlul bait,  dan secara umum memiliki kesamaan dalam ke-cinta taat-an (devotional love) terhadap Nabi dan keturunannya yang berasal dari jalur putrinya, Fatimah RA istri ‘Ali bin Abi Thalib, khususnya para imam yang mereka anggap ma’shum.

Sebagai bagian dari obyek penelitian, sebagian besar referensi mengenai Syi’ah mengambil perspektif paham atau doktrin yang dipercaya kelompok Syi’ah sebagai topik kajian. Oleh karenanya, sejauh model semacam ini penulis teliti, ada tiga kelompok kajian yang berbeda dalam dunia keislaman. Pertama, buku-buku yang secara khusus menjelaskan dan memaparkan doktrin-doktrin Syi’ah yang kebanyakannya memang ditulis oleh ulama Syi’ah.  Kedua, kajian yang meluruskan, menolak, dan bahkan menyerang kelompok pertama dan dilakukan oleh penganut Sunni atau mungkin mantan Syi’ah.  Ketiga, kajian yang mengupayakan adanya persatuan atau setidaknya mendekatkan berbagai perbedaan doktrin yang terjadi antara Sunni-Syi’ah.  Kelompok yang ketiga ini meski didominasi oleh penulis-penulis Syi’ah, namun juga ada beberapa ulama Sunni yang terlibat di dalamnya.

Penelitian yang menggunakan model studi lapangan (field study) dengan pendekatan sosiologis, antropologis, historis, atau politis terhadap paham atau kelompok Syi’ah masih sangat didominasi oleh sarjana Barat.  Meski demikian, dalam konteks Indonesia jumlah penelitian semacam itu masih sangat minim. Dalam level disertasi –sejauh temuan penulis- hanya ada dua disertasi yang mengupas model keberagaman orang Syi’ah di Indonesia dengan pendekatan studi observatoris. Kedua-duanya dilakukan oleh peneliti Indonesia. Pertama, disertasi Muhammad Baharun (2006) di IAIN Sunan Ampel yang berjudul, “Tipologi Pemahaman Doktrin Syi’ah di Jawa Timur”. Kedua, disertasi dari Zulkifi (2009) di Leiden University dengan judul “The Struggle of the Shi’is in Indonesia”. Ada juga beberapa artikel jurnal yang menggunakan pendekatan serupa, namun kajiannya masih sangat dangkal dan tidak komprehensif.

Sama seperti di dunia Islam pada umumnya, mayoritas kajian tentang Syi’ah di Indonesia masih berkutat pada beberapa doktrin yang dianggap “problematik”, terutama dari perspektif mainstream Muslim Indonesia yang berhaluan Sunni, seperti konsep imamah, nikah mut’ah, keadilan para sahabat, dan persoalan fiqh lainnya. Dalam konteks inilah, penelitian terhadap Syi’ah, bukan hanya sebagai sebuah paham tapi sebagai sebuah kelompok yang riil hidup di Indonesia penting untuk dilakukan. Tulisan ini meski sudah pasti tidak akan mampu memberikan bacaan dan analisa yang sempurna terhadap kelompok Syi’ah Indonesia, namun diharapkan dapat mengisi ruang-ruang kosong terkait kajian Syi’ah di Indonesia.

SEJARAH MASUKNYA SYI’AH DI INDONESIA

Sebagai sebuah gerakan atau kelompok paham, Syi’ah di Indonesia dapat disebutkan memulai perkembangannya pasca revolusi Iran pada tahun 1979. Memanfaatkan momentum kelahiran Iran sebagai “negara Syi’ah” dan euforia revolusi yang menggunakan Islam sebagai dasar perjuangannya, Syi’ah di dunia Islam tidak terkecuali Indonesia mulai berani menunjukkan jati dirinya. Gerakan-gerakannya pun mulai tersusun secara sistematis dalam kerangka kelembagaan atau organisasi-organisasi yang pahamnya berafiliasi terhadap Syi’ah. Hanya saja, ini tidak berarti bahwa sebagai sebuah paham, Syi’ah baru ada pasca 1979. Beberapa pakar sejarah bahkan justru meyakini bahwa orang Syi’ah lah yang pertama kali menyebarkan Islam di Nusantara.

Ada dua teori terkenal terkait kedatangan Islam di Indonesia. Pertama, teori yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui orang Sunni dan hal itu terbukti dengan fakta mayoritas Muslim Indonesia yang berpaham Sunni. Teori semacam ini semisal diungkapkan oleh Hamka dan Azyumardi Azra, dan teori pertama inilah yang banyak diterima oleh pakar sejarah Indonesia. Kedua, para pendukung teori Syi’ah seperti Fatimi, Jamil, Hasymi, Azmi, Atjeh, dan Sunyoto yang meyakini bahwa eksistensi Syi’ah telah ada sejak awal mula sejarah Islamisasi di Nusantara. Bahkan para pengikut Syi’ah dipercaya memainkan peran yang besar dalam proses Islamisasi tersebut. Penganut teori kedua ini mendasarkan keyakinannya pada banyaknya elemen tradisi Syi’ah yang dapat ditemui dan dipraktekkan di Nusantara.

Aboebakar Atjeh misalnya, adalah satu dari sekian tokoh yang meyakini bahwa di antara penyebar Islam pertama kali di Nusantara adalah ulama Syi’ah. Menurutnya, mazhab Syi’ah dan syafi’i adalah dua kepercayaan yang telah dianut oleh masyarakat Muslim Nusantara periode pertama di Aceh. Ia juga percaya bahwa Maulana Malik Ibrahim, salah seorang walisongo yang makamnya terletak di Gresik, adalah ulama Syi’ah. Selanjutnya, Atjeh juga menegaskan bahwa banyaknya raja-raja, terutama di pulau Jawa dan Sumatera yang bergelar sayyid menunjukkan adanya hubungan raja tersebut dengan ahlul bait.  Penulis melihat bahwa terdapat bias pribadi (personal bias) dalam penelitian yang dilakukan Atjeh ini. Pertama, beberapa argumentasi yang dibangunnya merujuk pada buku-buku karangan tokoh Syi’ah seperti Taba’taba’i. Kedua, Atjeh sendiri kalaupun mungkin bukan penganut Syi’ah, tapi menurut hemat penulis ia adalah pengagum atau setidaknya orang yang simpati terhadap Syi’ah. Hal ini bisa dilihat dari posisi yang diambilnya saat menjelaskan beberapa doktrin yang dipertentangkan antara Sunni dan Syi’ah.

Teori semacam Atjeh di atas ditolak secara total oleh Azyumardi Azra. Menurutnya, pengaruh besar Syi’ah di Indonesia hanya ada setelah terjadinya revolusi Iran 1979 bersamaan dengan dibawanya pemahaman tokoh-tokoh Syi’ah seperti Ali Syari’ati, Khomeini atau Muthahhari melalui berbagai karya-karya mereka yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sementara sebelum itu, kalaupun ada kesamaan antara budaya setempat dengan ajaran Syi’ah, hal itu hanyalah kesamaan yang tidak harus selalu dipahami dari sudut pandang teologi atau pengaruh politik paham Syi’ah. Azra juga menolak asumsi beberapa peneliti yang meyakini bahwa benturan antara paham Syi’ah dan Sunni sudah ada semenjak masa kesultanan Aceh dengan mengatakan bahwa bahkan sampai abad 12 tidak ditemukan benturan ideologis ataupun politis antara Syi’ah dan Sunni di timur tengah. Azra menyimpulkan, “bahwa Syi’ah sebagai suatu ideologi politik-keagamaan tidak pernah berkembang apalagi berkuasa di tempat mana pun di Nusantara ini”.

Oleh karenanya, Jalaluddin Rahmat mengemukakan tiga teori terkait cara Syi’ah masuk ke Indonesia. Pertama, Syi’ah dibawa oleh penyebar Islam awal yang datang ke Indonesia dan ber-taqiyyah  dengan menjalankan mazhab Syafi’i. Mereka menampakkan Syafi’i di luar, namun Syi’ah di dalam. Asumsi ini didukung dengan ditemukannya akulturasi aspek-aspek Syi’ah pada mazhab Syafi’i di Indonesia yang tidak ditemukan di tempat lain. Kedua, Syi’ah tidaklah datang pada Islam periode awal. Adalah ulama Sunni yang membawa Islam ke Indonesia. Syi’ah baru datang kemudian melalui praktek-praktek mistik dan sufistik. Ketiga, Syi’ah baru datang ke Indonesia setelah Revolusi Iran pada tahun 1979 melalalui buku-buku tentang filsafat atau pergerakan yang ditulis tokoh-tokoh Syi’ah Iran.

Penulis percaya bahwa Syi’ah –setidaknya sebagai paham- memang sudah hidup di Indonesia sebelum 1979. Bedanya, revolusi Iran telah merubah Syi’ah yang awal mulanya hanya hidup sebagai kultur di tengah masyarakat (cultural shi’ism) atau hanya disebarkan dalam kalangan keluarga dan komunitas yang sangat terbatas menjadi Syi’ah yang terlembagakan sebagai sebuah institusi (institutional shi’ism) dengan seperangkat pemikiran teologis dan politisnya (theological and political framework). Bahkan bisa dikatakan bahwa revolusi Iran menjadi starting point dan pembuka gerbang pertumbuhan dan perkembangan paham Syi’ah tidak hanya di Indonesia, namun juga di dunia pada umumnya.

KARAKTERISTIK DAN METODE DAKWAH SYIAH INDONESIA

Hingga saat ini belum ditemukan jumlah pasti berapa jumlah pengikut Syi’ah di Indonesia. Beberapa tokoh Syi’ah mencoba memberikan estimasi pengikut Syi’ah di Indonesia, meski tanpa menggunakan basis data yang dapat dipertanggung jawabkan. Muhammad Jawad Mughniyah pernah memperkirakan jumlah Syi’ah di Indonesia sebanyak 1 juta orang. Pada 1995, Muhammad Baragbah, pemimpin pesantren Syi’ah Al-Hadi Pekalongan menyebut angka 20.000 sebagai jumlah pengikut Syi’ah. Sedangkan Dimitri Mahayana, mantan ketua Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), pada tahun 2000 memperkirakan ada sejumlah 3 juta orang Syi’ah di Indonesia.

Dalam hemat penulis, tidak ditemukannya angka pasti terkait jumlah pengikut Syi’ah di Indonesia tidak hanya dikarenakan ketiadaan survei mengenai Syi’ah yang pernah dijalankan sebelum ini, namun tipologi pengikut Syi’ah di Indonesia sendiri tidaklah tunggal. Sehingga, heterogenitas model Syi’ah Indonesia turut membeli andil terhadap sulitnya mengidentifikasi angka yang sebenar penganut paham Syi’ah di Indonesia. Sebagian mengelompokkan Syi’ah di Indonesia menjadi dua: mereka yang beralih kepercayaan dari Sunni menjadi Syi’ah dan mereka yang sekedar mengagumi Syi’ah.  Sementara yang lain memberikan klasifikasi lebih dari dua.

Muhammad Baharun setelah meneliti tiga kantong Syi’ah di Jawa Timur, yaitu YAPI (Yayasan Pesantren Islam) yang bertempat di Bangil, Al-Hujjah yang bertempat di Jember, dan Al-Kautsar yang bertempat di Malang sampai pada kesimpulan bahwa pengikut Syi’ah di Jawa timur bisa diklasifikasikan dalam tiga tipologi. Pertama, Syiah ideologis yang dikembangkan oleh YAPI di Bangil melalui pendidikan Syiah yang lebih terstruktur dengan rapi. Syi’ah model pertama ini bersifat militan dan secara aktif menyebarkan ajaran Syi’ah. Kedua, “Su-Si” (Sunni-Syiah) yang muncul akibat kolaborasi dan pemahaman setengah-setengah antara Sunni dan Syiah dari gerakan al-Hujjah di Jember. Ketiga, Syiah Simpatisan yang muncul disebabkan ketertarikan gairah akademis dengan buku-buku yang diterbitkan oleh al-Kautsar di Malang.  Dalam konteks Indonesia secara umum, golongan pertamalah yang sering memicu benturan dengan paham Sunni sebagai paham mayoritas Muslim Indonesia. Kelompok ini tidak hanya monopoli santri “non-intelektual” alumni pesantren Syi’ah seperti YAPI, namun juga beberapa tokoh intelektual yang mayoritas menimba ilmu di Qum, Iran.

Berdasarkan urutan waktu kedatangan, Jalaluddin Rahmat membagi Syi’ah Indonesia menjadi tiga periode. Periode pertama adalah mereka yang telah menjadi Syi’ah sebelum revolusi Iran. Mereka pada umumnya menyimpan kepercayaan Syi’ah-nya untuk diri mereka dan keluarga terdekatnya saja dan tetap membaur ber-taqiyyah dengan kelompok mayoritas Sunni. Kedua, kelompok intelektual yang hadir pasca banyaknya buku-buku pemikiran tokoh Syi’ah yang diterjemahkan ke Indonesia setelah revolusi Iran. Mulanya mereka hanya tertarik pada intelektualitas Syi’ah saja sebelum kemudian mempelajari doktrin keagamaan Syi’ah secara keseluruhan. Ketiga, kelompok Syi’ah berorientasi fiqh yang lahir sebagai konsekuensi semakin besarnya keingintahuan penganut Syi’ah terhadap ritual fiqh Syi’ah. Kelompok ini mendapatkan momentumnya ketika banyak orang-orang Indonesia yang telah lama belajar di Qum pulang ke tanah air untuk menyebarkan paham Syi’ah yang telah mereka pelajari.

Syi’ah sendiri tidaklah tunggal. Ia terpecah-pecah ke dalam banyak kelompok, seperti imamiyyah, zaidiyyah, isma’iliyyah, dan yang lain. Mayoritas Syi’ah yang hidup di Indonesia adalah Syi’ah imamiyah atau itsna Asyariyah,  sama seperti mayoritas Syi’ah yang ada di Iran. Sebagian besar penganut Syi’ah di Indonesia berdomisili di Pulau Jawa, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.  Hanya saja, berbeda dengan Syi’ah yang hidup di Iran, terutama pasca revolusi 1979, sampai saat ini Syiah Indonesia cenderung tidak bermain pada wilayah politik dan kekuasaan. Mungkin disebabkan jumlah mereka yang masih terbilang minoritas, Syi’ah Indonesia lebih banyak berkutat pada hal-hal yang masih bersifat intelektual ataupun doktrinal yang berorientasi fiqh. Meski demikian, bukan tidak mungkin hal tersebut akan berubah suatu saat nanti bila populasi Syi’ah telah semakin berkembang, mengingat isu politis, seperti doktrin imamah, termasuk bagian yang tak terpisahkan dari ajaran yang mereka yakini.

Pada periode awal pasca revolusi Iran, penyebaran Syi’ah atau Syi’ah-isasi di Indonesia lebih banyak memanfaatkan kharisma tokoh-tokoh Syi’ah yang sebagian besar berasal dari kalangan Habaib atau Sayyid  (sebutan untuk keturunan Arab yang ada garis keturunan dari Rasulullah). Mereka membuka pesantren, menulis buku, menerjemahkan karya-karya tokoh Syi’ah Iran, dan yang paling penting mengisi berbagai ceramah di berbagai lokasi di Indonesia. Dengan pendekatan kultural, semacam ceramah tadi mereka mendapatkan pengikut, murid, dan kader-kader yang siap untuk diberi pendidikan lebih lanjut tentang doktrin dan paham-paham Syi’ah. Penulisan dan penerjemahan buku-buku Syi’ah adalah fase berikutnya setelah pendekatan kultural. Pada fase ini, banyak kaum terpelajar yang mulanya sekedar tertarik dan simpatik terhadap perjuangan Syi’ah Iran melalui revolusinya menjadi belajar dan bahkan kemudian mempercayai doktrin-doktrin Syi’ah. Pendek kata, sejak awal tahun 80-an hingga kini, baik strategi kultural ataupun akademis sama-sama dipergunakan dalam penyebarluasan paham Syi’ah di Indonesia.

Khusus untuk komunitas Islam grassroots, Syi’ah lebih menekankan pada pendekatan kultural melalui teknik dakwah emosional. Ia disebarkan melalui ajakan untuk membela “ketertindasan” keluarga Nabi melawan kezaliman pihak penguasa (Sunni). Acara-acara religius-kultural semacam perayaan Asyura yang telah lama ada dan hidup  di tengah masyarakat dimanfaatkan untuk juga mengenang kematian Husain RA.  Ceramah-ceramah para tokoh Syi’ah selalu identik dengan ratapan dan tangisan. Meski tidak se-ekstrim perayaan Karbala di Iran, namun pendekatan emosional semacam ini cukup efektif menyentuh hati masyarakat, karena sejak awal kecintaan terhadap Nabi dan keluarga Nabi telah melekat dalam kepercayaan mereka. Peringatan tahunan maulid (kelahiran) Nabi, pembacaan sholawat, dan puji-pujian mengagungkan Nabi dan keluarganya adalah rutinitas religius kultural yang telah lama dijalankan dan dibudayakan dalam masyarakat Muslim akar rumput.

Sementara dalam penulisan buku, pada umumnya penulis Syi’ah tidak secara lugas melakukan penyerangan ataupun penolakan secara frontal terhadap doktrin-doktrin Sunni yang bertentangan dengan Syi’ah. Sekilas judul buku tersebut akan tampak sebagaimana buku-buku keagaamaan yang lain. Justifikasi bahwa buku tersebut adalah karya yang berisi ajaran Syi’ah hanya bisa dilakukan melalui telaah terhadap kandungan dan isinya. Meski menggunakan referensi yang diakui dan diterima secara luas oleh Sunni, sedikit atau banyak buku-buku “Syi’ah” akan menunjukkan jatidirinya melalui input doktrin-doktrin penting yang berbeda dengan Sunni. Kualitas dan kuantitasnya tentu berbeda antar satu dengan yang lain. Dalam kasus keadilan sahabat (‘adalat al-sahabat)  misalnya, ada yang sekedar memuji Sayyidina Ali dan memposisikannya di atas sahabat yang lain, tapi ada juga yang dibumbui dengan menyalahkan dan merendahkan martabat sahabat yang lain. Dengan didukung referensi mazhab Sunni, pembaca (Sunni) akan diajak untuk sedikit demi sedikit meragukan doktrin yang mereka percayai selama ini, dan lalu beralih mempercayai dan meyakini “fakta-fakta” yang diajukan buku Syi’ah tersebut.

Hanya saja,  penulis Syi’ah sering tidak berlaku adil terhadap referensi Mazhab Sunni yang mereka gunakan. Di satu sisi mereka menganggapnya sebagai referensi yang tidak valid, tapi di sisi lain mereka tetap menggunakannya asalkan ia dapat menjadi hujjah untuk memperkokoh argumentasi yang sedang mereka bangun. Ini menunjukkan sikap inkonsistensi ilmiah dari para penulis Syi’ah, karena menerapkan standar ganda dalam epistemologi keilmuwan mereka. Penyebab hal semacam ini, menurut hemat penulis, tidak bisa dilepaskan dari sejarah terbentuknya kelompok Syi’ah sendiri yang memang kental didominasi oleh faktor politis daripada teologis. Keshahihan klaim teologis menjadi tidak begitu penting, sejauh bahwa titik berat ajaran Syi’ah adalah pada posisi “memperjuangkan”, “menyelamatkan”, dan “membentengi” kekuasaan Ali dan keturunannya sebagai orang yang dianggap paling berhak mewarisi dan meneruskan kepemimpinan Rasulullah Saw.

Lahirnya banyak organisasi dan lembaga-lembaga pendidikan yang belandaskan spirit Syi’ah juga menjadi faktor pendukung bertumbuh pesatnya paham dan komunitas Syi’ah di Indonesia. Khusus setelah bergulirnya era reformasi, pembentukan dan kehadiran Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) pada tahun 2000 dengan Jalaluddin Rahmat sebagai arsitek utamanya adalah upaya untuk membangun rumah bersama dan mempersatukan komunitas Syi’ah di Indonesia. Posisi IJABI kemudian semakin kukuh setelah organisasi tersebut mendapatkan pengakuan legal formal dari pemerintah Indonesia pada 11 Agustus 2000. Sebelumnya, IJABI melaksanakan inagurasi dan kongres pertamanya di Bandung dengan dihadiri sekitar 2000 orang simpatisan Syi’ah dari dalam dan luar negeri. Jalaluddin Rahmat memberikan klaim pada kongres pertama tersebut, bahwa organisasi tersebut memiliki tiga setengah juta pengikut di seluruh Indonesia.

Meski demikian, tidak berarti IJABI tidak mendapatkan tantangan dari internal komunitas Syi’ah. Beberapa tokoh Syi’ah, terutama yang masuk kategori ¬fiqh-oriented menolak keberadaan IJABI sebagai wadah organisasi Syi’ah Indonesia. Alasannya, karena IJABI dianggap tidak menjalankan doktrin Syi’ah secara menyeluruh, terutama dalam bidang teologi. Sistem wilayatul faqih  (kekuasaan tertinggi ada di tangan ulama) misalnya, tidak diadopsi oleh IJABI dalam statutanya dan justru lebih memilih model demokrasi.  Pertentangan antara kaum intelektual versus kaum ulama di dalam komunitas Syi’ah masih terjadi hingga saat ini di Indonesia, sebagaimana yang juga sebenarnya terjadi pada organisasi semacam Nahdaltul Ulama.

LEMBAGA DAN TOKOH SYI’AH INDONESIA: STUDI KASUS JAWA TIMUR

Dalam sub-bab ini, penulis tidak mungkin mengelaborasi semua lembaga dan tokoh Syi’ah yang jumlahnya mungkin mencapai puluhan atau bahkan ratusan di Indonesia. Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam pada tahun 1997 membuat daftar beberapa lembaga besar yang berpahamkan Syi’ah di Indonesia, di antaranya adalah Yayasan Muthhari Bandung, Yayasan Al-Muntazhar Jakarta, Yayasan Mulla Sadra Bogor, Yayasan Pesantren YAPI Bangil, Yayasan Al-Jawad Bandung, Yayasan Al-Muhibbin Probolinggo, Pesantren Al-Hadi Pekalongan, Yayasan Pesantren Yapisma Malang, Yayasan Madinatul ‘Ilmi, YAPI Lampung, Yayasan Darul Habib Jakarta.  Saat ini jumlah lembaga semacam ini sudah semakin banyak dan tersebar di beberapa kota di Indonesia.

Oleh sebab itu, penulis pada pada tulisan ini akan membatasi kajian lembaga dan tokoh syiah hanya pada wilayah Jawa Timur saja dengan mengambil YAPI Bangil sebagai representasi lembaga syiah serta pendirinya, Husein Al-Habsyi, sebagai perwakilan tokoh Syi’ah Indonesia. Keduanya penulis ambil sebagai sample kajian, karena keduanya penulis anggap cukup “bertanggung jawab” atas peran masing-masing yang cukup signifikan, tidak hanya dalam memperkenalkan paham Syi’ah, namun juga dalam proses kaderisasi penganut Syi’ah di Indonesia.

Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil didirikan oleh Habib Husein bin Abu Bakar Al-Habsyi (1921-1994)  pada tanggal 21 Juni 1976. Lembaga ini merupakan kelanjutan dari YAPI Bondowoso yang didirikannya bersama para tokoh lain pada tahun 1971. Ada perbedaan pendapat mengenai semenjak kapan Husein al-Habsyi menganut Syi’ah. Sebagian meyakini ia telah menjadi Syi’ah semenjak masih muda ketika bertemu dengan tokoh-tokoh penganut Syi’ah di organisasi Jam’iat al-Khairiyyah yang ia aktif di dalamnya, seperti Sayyid Muhammad bin Ahmad al-Muhdar (w. 1926) dan Sayyid Ahmad bin Abdullah Assegaf (w. 1949). Namun, ia menjalankan praktek taqiyyah dan tetap mengaku sebagai Sunni sampai terjadinya revolusi Iran yang membuatnya berani untuk sedikit mengungkap jatidiri Syi’ah-nya. Sedangkan sebagian yang lain mengatakan bahwa Husein al-Habsyi baru beralih menjadi Syi’ah setelah ia terpukau dengan revolusi Iran dan banyak membaca literatur-literatur tokoh Syi’ah.

Pentingnya posisi YAPI Bangil dalam kajian Syi’ah di Indonesia adalah karena Husein Al-Habsyi melalui YAPI-nya adalah lembaga pertama yang telah memulai proses kaderisasi penganut Syi’ah militan dan intelektual yang siap dikirim ke banyak lokasi di Indonesia pada awal tahun 80-an. Dari tahun tersebut sampai akhir hayatnya di tahun 1994, ia secara konsisten mengirimkan murid-muridnya untuk belajar ke Qum, salah satu kota suci di Iran yang sering menjadi rujukan kader-kader Syi’ah dalam menimba ilmu. Sepulang mereka ke Tanah Air, mereka telah siap menyebarkan dan menjadi guru-guru Syi’ah yang aktif di berbagai organisasi dan pesantren di Indonesia.  Ahmad Baragbah misalnya, pendiri dan pemimpin pesantren Syi’ah Al-Hadi di Pekalongan adalah termasuk murid pertama Husein al-Habsyi yang dikirim ke Qum pada tahun 1982.  Begitu juga pemimpin lembaga al-Hujjah Jember, Jamaluddin Asymawi (w. 2002) adalah murid Husein Al-Habsyi yang dikirim belajar ke Iran pada tahun yang sama.

Selain itu, kasus kerusuhan Sunni-Syi’ah yang baru-baru ini terjadi di Sampang juga menunjukkan betapa kuatnya pengaruh YAPI Bangil dalam perluasan dakwah Syi’ah Indonesia, khususnya Jawa Timur. Tajul Muluk, pemimpin Syi’ah Sampang, adalah orang yang secara reguler mengirimkan beberapa anak didiknya, termasuk 4 anak kandungnya dari Madura untuk melanjutkan pendidikannya di YAPI Bangil. Tentu saja motif Syi’ah-isasi menjadi agenda utama dalam proses pembelajaran tersebut. Tajul Muluk sendiri disebut-sebut menganut paham Syi’ah bermula dari kekagumannya atas keberhasilan Khomeini dalam memimpin revolusi Iran. Ia membaca beberapa buku dari tokoh-tokoh Syi’ah dan kemudian beralih menjadi Syi’ah, bahkan mendirikan pesantren Misbahul Huda yang berorientasikan paham Syi’ah.

Meski telah terjadi bentrok yang berujung pada perusakan bangunan-bangunan pesantren Misbahul Huda Syi’ah pada Januari 2012,  tampaknya hal itu tidak sedikitpun menimbulkan rasa takut pada penganut Syi’ah kelompok Tajul Muluk. Pada tanggal 26 Agustus 2012, bentrokan antara masyarakat dengan pengikut Tajul Muluk kembali terjadi. Bentrokan ini dipicu karena warga tidak terima pengikut Tajul Muluk yang hendak mengembalikan anak-anak mereka ke YAPI Bangil pasca libur lebaran. Sebelumnya, masyarakat telah meminta dan mendesak Pemerintah Kabupaten Sampang untuk memfasilitasi pendidikan anak-anak kelompok Tajul Muluk agar dapat bersekolah di pondok atau sekolah yang ada di Sampang dan keluar dari pendidikan di YAPI Bangil.  Fakta ini Ini di samping menunjukkan militansi gerakan Syi’ah di Sampang, juga semakin memperkuat asumsi YAPI Bangil sebagai learning centre (pusat pembelajaran) kader-kader Syi’ah, khususnya di kawasan Jawa Timur.

RESPON TERHADAP EKSISTENSI SYI’AH

Datangnya era reformasi dan era kebebasan pasca lengsernya Soeharto membuka peluang kepada pengikut Syi’ah untuk dapat berkembang dan lebih bebas dalam menyebarkan pahamnya. Oleh karenanya, meski tidak berarti harus selalu satu gagasan, banyak lembaga-lembaga dan tokoh Syi’ah Indonesia yang berkolaborasi dengan kelompok yang masuk kategori Islam liberal.  Kolaborasi tersebut tentu saja dalam kerangka melindungi eksistensi Syi’ah dengan cara mempromosikan kebebasan berpikir, kebebasan memilih keyakinan beragama, dan melindungi hak-hak minoritas. Meski demikian, fakta bahwa mayoritas Muslim Indonesia berpaham Sunni meniscayakan lahirnya respon terhadap kehadiran kelompok Syi’ah di Indonesia. Respon tersebut memiliki frekuensi dan intensitas yang berbeda, mulai dari yang paling ramah hingga paling keras. Sejauh mengenai respon non-Syi’ah (baca: Sunni) terhadap eksistensi Syi’ah di Indonesia, penulis –setelah membaca beberapa literatur dan referensi- mengkategorikannya menjadi tiga macam: negatif-agresif, netral-imparsial, dan moderat-simpatik.

Kelompok pertama, negatif-agresif, umumnya diwakili oleh kaum tradisional Islam yang mayoritas hidup di kalangan akar rumput (grassroots) dan organisasi Islam nasional yang berhaluan traditional-puritan. Agresif di sini bukan hanya bermakna menggunakan kekerasan, tapi mendakwahkan paham anti-shi’ahnya melalui berbagai media yang dimiliki juga bisa masuk dalam kategori ini. Oleh karenanya, bukan hanya beberapa penyerangan dan perusakan terhadap institusi Syi’ah saja yang masuk bagian dari kelompok pertama ini, organisasi semacam PERSIS, Al-Irsyad yang secara terang menyatakan dan mendakwahkan penolakannya terhadap ajaran Syi’ah, bahkan menganggap ajaran tersebut sebagai ajaran sesat juga masuk di dalamnya. Pada konferensi yang ke 36 di tahun 1996 misalnya, Al-Irsyad mengirim surat permohonan resmi kepada pemerintah untuk melarang penyebar luasan ajaran Syi’ah di Indonesia.

Penggunaan kekerasan untuk menghentikan aktivitas Syi’ah adalah bentuk paling ekstrem dari kategori pertama ini. Pada April 2000, bangunan dan fasilitas pesantren “Syi’ah” Al-Hadi Pekalongan dibakar dan dihancurkan. Sementara Februari 2011, terjadi “penyerangan” atau kerusuhan di dalam pesantren YAPI Bangil antara santri YAPI dan warga Sunni. Awal tahun ini, Januari 2012, giliran pesantren Tajul Muluk di Sampang Madura yang menjadi sasaran. Pada Mei 2012, di Jember juga terjadi bentrok yang disebabkan isu gesekan dakwah Syi’ah. Pada Agustus, Sunni-Syi’ah sampang kembali bentrok dan beberapa orang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Fakta-fakta ini sekedar menunjukkan bahwa respon terhadap Syi’ah di Indonesia juga bisa bersifat sangat negatif, agresif dan bahkan anarkis.

Selain itu, kategori pertama ini juga mencakup institusi Majelis Ulama Indonesia (MUI)  di dalamnya. MUI sebagai institusi yang berwenang mengeluarkan fatwa sebagai panduan bagi umat Islam Indonesia telah mengeluarkan fatwa tentang Syi’ah pada tahun 1984.  Meski hanya menekankan beberapa perbedaan ajaran Syi’ah dan Sunni dalam fatwanya, fatwa ini termasuk respon pertama yang menyadari eksistensi dan penyebaran paham Syi’ah di kalangan Muslim Indonesia pasca revolusi Iran 1979.  Selanjutnya, MUI cabang Sampang dan Jawa Timur mengeluarkan fatwa tentang Syi’ah terkait konflik Sunni-Syi’ah yang terjadi di Sampang, Madura. Meski merespon kejadian lokal, namun fatwa tentang Syi’ah yang terakhir ini seakan merupakan jawaban atas keresahan dan puncak gunung es dari serangkaian konflik Sunni-Syi’ah yang terjadi di kawasan Jawa Timur dalam kurun tahun 90-an hingga 2000-an.

Fatwa MUI tentang Syi’ah ini sendiri menimbulkan reaksi yang berbeda-beda. Ada yang sepenuhnya mendukung, ada yang mengambil posisi netral,  tapi tidak sedikit juga yang mengkritik dan bahkan menolaknya. Bagi yang mendukung, fatwa MUI dianggap respon yang tepat dari para ulama untuk memberikan jawaban atas posisi Syi’ah terhadap mayoritas Muslim Indonesia yang menganut paham Sunni.  Sedangkan kelompok anti-fatwa yang pada umumnya didominasi oleh komunitas Islam Liberal dan Syi’ah, justru menyayangkan dikeluarkannya fatwa tersebut. Alasan mereka karena di samping justru memperuncing perbedaan yang sudah ada, fatwa semacam itu juga seolah memberikan justifikasi atau pembenaran terhadap perilaku anarkis terhadap kelompok Syi’ah atau Islam minoritas lainnya. Isu hak-hak minoritas dan hak kebebasan menjalankan keyakinan biasanya menjadi dalil bagi penentang fatwa ini.

Kembali ke pembahasan respon terhadap eksistensi Syi’ah. Model respon kedua terhadap eksistensi Syi’ah di Indonesia bersifat netral-imparsial. Karakter semacam ini diwakili oleh (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah yang menunjukkan sikap netral terhadap paham dan kelompo Syi’ah. Sebuah seminar nasional tentang Syi’ah yang diadakan di aula masjid Istiqlal Jakarta pada 21 September 1997 dapat memberikan gambaran posisi beberapa ormas Islam besar Indonesia terhadap keberadaan Syi’ah di Indonesia. Sementara organisasi semacam Al-Irsyad, NU, Al-Bayyinat, Persis dan DDII mengirimkan perwakilannya untuk menyampaikan makalah yang pada intinya memperingatkan atau bahkan menolak Syi’ah, Muhammadiyah justru tidak mengirimkan wakilnya pada seminar itu. Hanya saja dalam kompilasi makalah seminar yang dibukukan kemudian, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengirimkan kata sambutan dan memperjelas posisi mereka perihal perbedaan Sunni-Syi’ah. Mereka menulis,

Persoalan penting yang menghadang kaum Muslimin dewasa ini adalah bagaimana memfungsikan ikhtilaf (perbedaan) sebagai mobilisator dinamika kehidupan… tapi di sisi lain ikhtilaf malah banyak yang menjerumuskan manusia ke jurang konflik berkepanjangan. Konflik Sunni-Syi’ah juga termasuk yang disebut terakhir itu… Dengan tidak bermaksud melakukan pledoi terhadap aliran Syi’ah, tapi apapun yang dikatakan orang, Syi’ah dianut oleh sebagian besar penduduk Iran, sebagian penduduk negara Muslim, seperti Pakistan, Syria, Yaman, Libanon, India, dan lainnya… muncul beberapa ulama Sunni-Syi’ah yang sepakat untuk menghindari perbenturan demi memelihara kesatuan Islam… Kami berpendapat bahwa ada kelemahan dan kekurangan dari golongan Syi’ah. Oleh sebab itu kepada segenap umat Islam dianjurkan untuk mempelajarinya secara kritis dengan tetap menjadikan al-Quran dan Al-Sunnah al-Shahihah sebagai alat dan standar penelitiannya.

Posisi netral yang diambil Muhammadiyah ini besar kemungkinan disebabkan karena sejak awal isu teologis memang tidak menjadi perhatian dari organisasi ini. Muhammadiyah adalah organisasi yang lebih concern atau memberikan titik tekan terhadap isu sosial pendidikan dan pembaruan Islam di segala bidang.  Namun, penting dicatat di sini bahwa posisi yang diambil pimpinan pusat sebuah ormas Islam tidak selalu mengindikasikan kesamaan posisi dengan cabang ormas di tingkat wilayah atau daerah terkait sikap terhadap Syi’ah. Misalnya, sementara Pimpinan Pusat Muhammadiyah menunjukkan sikap netral, pimpinan Muhammadiyah wilayah Jawa Timur justru menunjukkan sikap resistensi yang sangat tinggi terhadap keberadaan Syi’ah. Fenomena serupa juga dapat dilihat dalam tubuh organisasi Nahdlatul Ulama.

Kategori ketiga terkait respon terhadap Syi’ah Indonesia ada moderat-simpatik. Kategori ini umumnya banyak diwakili oleh para tokoh-tokoh intelektual nasional seperti Nurcholish Madjid, Amin Rais, Abdurrahman Wahid, Said Aqil Siradj, atau Quraisy Shihab yang mengakui, membela dan bahkan mendukung eksistensi Syi’ah. Namun, perlu dicatat di sini bahwa respon mereka ini tidak dapat dimaknai sebagai representasi dari organisasi dimana mereka terlibat atau aktif di dalamnya. Meski Gus Dur dan Said Aqil (masing-masing mantan dan ketua NU) cenderung bersikap moderat-simpatik terhadap Syi’ah, namun secara kelembagaan, NU dari kalangan pusat hingga daerah tetap menunjukkan sikap negatif-agresif. Pun demikian dengan Amin Rais dan Muhammadiyah sebagaimana telah penulis jelaskan sebelumnya.

Amin Rais termasuk orang yang kagum terhadap keberhasilan revolusi Iran. Ia pernah menerjemahkan buku Ali-Syariati ke dalam bahasa Indonesia. Amin Rais memang tidak secara eksplisit memberikan dukungan terhadap keberadaan Syi’ah. Ia hanya berpandangan bahwa kelompok Sunni harus bisa menghormati dan bekerjasama dengan kelompok Syi’ah, demikian pula sebaliknya. Sedangkan Nurcholish Madjid termasuk tokoh yang cukup lantang menyuarakan kesamaan posisi Syi’ah dan Sunni dalam Islam. Ia meyakini bahwa kolaborasi Sunni-Syi’ah akan banyak memberikan manfaat, terutama pada orang-orang Sunni dalam bidang ilmu pengetahuan.

Tidak jauh berbeda dengan Nurcholish Madjid, Gusdur juga sering melakukan “pembelaan” terhadap komunitas Syi’ah. Ia banyak mengemukakan fakta kedekatan kultural antara Sunni (NU)-Syi’ah untuk menunjukkan sikap simpatik dan pembelaannya terhadap Syi’ah. Sejatinya, sikap pembelaan terhadap Syi’ah ini adalah sikap umumnya terhadap semua golongan minoritas yang ada di Indonesia. Saat menjabat sebagai presiden, Gusdur tidak hanya membuka ruang lebih pada publik Tionghoa, ia juga memberikan pengakuan legal terhadap keberadaan organisasi nasional Syi’ah, IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia).

Said Aqil, ketua NU saat ini, dikenal sebagai orang yang tidak menyesatkan ajaran Syi’ah, dan oleh karenanya ia dituduh sebagai salah satu pembela Syi’ah. Menurutnya, Syi’ah adalah termasuk satu dari kelompok-kelompok yang ada dalam Islam (al-firaq al-Islamiyah). Perbedaan Syi’ah dengan mayoritas Islam Sunni, meurutnya, tidak sampai membuat Syi’ah keluar dari Islam. Demikian juga dengan Qurais Shihab yang pernah menulis buku berjudul, “Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?”. Dalam buku itu, Quraisy Shihab pada intinya berargumentasi bahwa meski banyak perbedaan antara Sunni dan Syi’ah, kesamaan di antara keduanya jauh lebih banyak. Namun buku ini kemudian mendapat sejumlah kritik, termasuk dari santri Sidogiri yang menulis buku sanggahan berjudul, ”Mungkinkah Sunnah-Syiah dalam Ukhuwah?  Jawaban atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?)”.

Kesalahan yang diambil oleh para tokoh intelektual di atas, menurut penulis, terletak pada cara mereka melihat fenomena Syi’ah Indonesia yang menggunakan perspektif teoritis dan spektrum internasional. Mereka tidak menelaah secara mendalam fakta-fakta pada Islam grasroots yang mengalami gesekan langsung dengan kelompok Syi’ah. Sebagaimana tokoh-tokoh internasional lainnya, semisal Muhammad Syaltut atau Yusuf Qardlawi yang dalam beberapa kesempatan menekankan pentingnya kesatuan Sunni-Syi’ah, tokoh-tokoh intelektual Indonesia tersebut memiliki tujuan yang juga tidak jauh berbeda. Mereka melihat pentingnya menghentikan aroma “permusuhan” atau pertikaian teologis antara dua kelompok terbesar dalam Islam, Sunni dan Syi’ah, yang telah terjadi beratus tahun lamanya dan mengupayakan sebisa mungkin persatuan atau setidaknya pendekatan kedua mazhab tersebut. Hanya saja, fakta dan tantangan yang dihadapi Islam kelas bawah tidaklah sesederhana rumusan persatuan dari kaum intelektual tersebut.

EPILOG

Dalam konteks Indonesia, meski besar kemungkinan Syi’ah telah ada jauh sebelum revolusi Iran 1979, namun ia baru mengkristal dan mendapatkan momentum perkembangannya pasca revolusi politik di negara “Syi’ah” tersebut. Mengingat mayoritas Muslim Indonesia berpahamkan Sunni, gesekan-gesekan yang terjadi atas nama perbedaan Sunni-Syi’ah, terutama pada masyarakat grassroots dan perlawanan secara intelektual dari para tokoh cendekia Sunni adalah hal-hal yang tidak dapat dihindarkan. Aksi alamiah pengikut Syi’ah sebagai kelompok minoritas untuk dapat berkembang menjadi lebih besar melalui proses Syi’ah-isasi (tasyayyu’), secara alamiah juga akan menimbulkan reaksi dan respon dari kelompok Sunni. Level reaksi itu sendiri berbeda-beda dari yang paling negatif sampai paling moderat.

Ke depan, model reaksional terutama yang bersifat negatif-agresif terhadap eksistensi Syi’ah di Indonesia dari kelompok Sunni harus diubah menjadi aksi produktif sebagai langkah preventif. Selain tidak efektif, penggunaan kekerasan justru menciderai citra “damai” agama Islam, dan pada akhirnya justru melemahkan Islam secara keseluruhan. Bagi para pemuka Sunni, penyebaran ajaran Syi’ah di wilayah-wilayah kantong Sunni, seperti Sampang, Madura adalah bukti betapa saat ini mereka memerlukan upaya yang lebih keras guna meyakinkan dan membentengi masyarakat Sunni dari aqidah non-Sunni. Sedangkan bagi pemerintah, keseimbangan dalam melihat dan menyelesaikan pertikaian Sunni-Syi’ah penting untuk dilakukan. Fakta bahwa Syi’ah adalah kelompok minoritas sama sekali tidak meniscayakan bahwa merekalah yang layak “dibela” dan dijaga hak-haknya. Bila kelompok mayoritas diwajibkan menghormati hak-hak minoritas, maka demikian pula yang semestinya dipraktekkan oleh kelompok minoritas. Wallahu A’lam.



* Robitul Firdaus, SHI., MSI, adalah Kandidat Doktor Of Philosophy, ISTAC

** Makalah ini disajikan dalam diskusi reguler mingguan Islamic Studies Forum for Indonesia (ISFI) pada tanggal 21 Desember 2012 di International Islamic University Malaysia (IIUM) Gombak, Selangor.

Oleh : Robitul Firdaus, SHI., MSI.



REFERENSI
Al-Kaff, Thohir Abdullah. (1998). “Perkembangan Syi’ah di Indonesia”. Dalam Umar Abduh dan Kirtos Away (eds.). Mengapa Kita Menolak Syi’ah; Kumpulan Makalah Seminar nasional Tentang Syi’ah di Aula Masjid Istiqlal Jakarta 21 September 1997. Jakarta: Lembaga Penelitian dan Pengkajian Islam. 55-74
Amin, Ma’ruf, et al. (2011). Himpunan Fatwā MUI Sejak 1975. Surabaya: Penerbit Erlangga.
Amin, Ma’ruf. (2012). “Menyikapi Fatwa MUI Jatim”. Republika. 8 November 2012.
As-Salus, Ali Ahmad. (2001). Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah: Studi Perbandingan Hadits dan Fiqh. Vol. 2. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
As-Salus, Ali Ahmad. (2001). Ensiklopedi Sunnah-Syi’ah: Studi Perbandingan Aqidah dan Tafsir. Vol. 1. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Atjeh, Aboebakar. (1977). Aliran Syi’ah di Nusantara. Jakarta: Islamic Research Institute.
Atjeh, Aboebakar. (1980). Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam. Kelantan: Pustaka Aman Press.
Azyumardi Azra, “Syi’ah di Indonesia: Antara Mitos dan Realitas”, Ulumul Quran, No. 4, Vol. VI, tahun 1995. 4-19.
Baharun, Muhammad. (2006). “Tipologi Pemahaman Doktrin Syiah di Jawa Timur”. Disertasi. Surabaya: Pascasarjana IAIN Sunan Ampel.
Baharun, Mohammad. (2012). “Menegeuhkan Fatwa-Fatwa MUI (Respon atas Pernyatan KH. Ma’ruf Amin)”. Republika. 23 November 2012.
Bagir, Haidar. (2012). “Proporsional Menyikapi Fatwa”. Republika. 27 November 2012.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. (1994). Ensiklopedi Islam. Vol. 5. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve.
Dlohir, Ihsan Ilahi. (1984). Al-Syi’ah wa al-Tasyayyu’. Lahore: Idarah Turjuman al-Sunnah.
“Hasil Investigasi MUI Jatim terkait Konflik Sunni-Syi’ah di Sampang Madura”. (2012). http://berita.muslim-menjawab.com/2012/08/inilah-hasil-investigasi-mui-jawa-timur.html, diakses pada 18 Desember 2012.
Harsaputra, Indra. (2012). “As govt suggests moving, Shiites ask why”. http://www.thejakartapost.com/news/2012/01/04/as-govt-suggests-moving-shiites-ask-why.html, diakses pada 10 April 2012.
Hegland, Mary. (1983). “Two Immages of Husain: Accomodation and Revolution in an Iranian Village”. Dalam Nikki R. Keddie, Religion and Politics in Iran. New Haven and London: Yale University Press. 218-235.
Hosen, Nadirsyah. (2004). “Behind The Scenes: Fatwas of Majelis Ulama Indonesia (1975-1998)”, Journal of Islamic Studies, Vol. 15, Number 2: 147-179.
Ichwan, Moch Nur. (2005). “Ulamā’, State and Politics: Majelis Ulamā Indonesia after Suharto”, Islamic Law and Society, 12: 45-72
“Jalaluddin Rahmat: Dikotomi Sunni-Syi’ah Tidak Relevan Lagi”. (1995). Ulumul Qura’n. No. 4. Vol. VI: 92-103.
Latief, Hilman. (2008). “The Identity of Shi’a Symphatizers in Contemporary Indonesia”, Journal of Indonesian Islam, Vol. 2, No. 2, December 2008. 300-335.
Louer, Laurence. (2008). Transnational Shi’a Politics: Religious and Political Networks in the Gulf. London: HURST Publisher.
Marcinkowski, Christoph. (2008). “Aspects of Shi’ism in Contemporary Southeast Asia”, The Muslim World, Vol. 98: 36-71.
Mudzhar, M. Atho. (1990). Fatwās of the Council of Indonesian Ulamā: A Study of Islamic Legal Thought in Indonesia, 1975-1988. Los Angeles: University of California.
Nurjulianti, Dewi dan Arief Subhan. (1995). “Lembaga-lembaga Syi’ah di Indonesia”, Ulumul Qur’an, No. 4, Vol. VI: 20-26.
Rose, Gregory. (1983). “Velayat-e Faqih and the Recovery of Islamic Identity in the Thought of Ayatollah Khomeini”, Dalam Nikki R. Keddie, Religion and Politics in Iran. New Haven and London: Yale University Press. 166- 188.
Stewart, Devin J. (1991). “Twelver Shi’i Jurisprudence and Its Struggle with Sunni Consensus”. Disertasi. Pennsylvania: University of Pennsylvania.
Tabataba’i. (1988). “Shi’i View of Religion in General and Shi’ism in Particular”. In Seyyed Hossein Nasr, Hamid Dabashi, and Seyyed Vali Reza Nasr (eds.). Shi’ism, Doctrines, Thought, and Spirituality. Albany: State University of New York Press.
Zulkarnain, KH Tengku. (2012). “Akar Masalah yang Diabaikan”. Republika. 13 November 2012.
Zulkifli. (2009). “The Struggle of the Shi’is in Indonesia”. Disertasi. Leiden: Leiden University.
Zulkifli. (2004). “Being a Shi’ite among the Sunni Majority in Indonesia: A Preliminary Study of Ustadz Husein al-Habsyi (1921-1994)”, Studia Islamika: Indonesian Journal for Islamic Studies 11 (2): 275-308.
isfimalaysia.wordpress.com

postingan selesai ........

Bila informasi diatas ada yang salah , silahkan isi di komentar di bawah.
Artikel Paham Dan Gerakan Syi’ah Di Indonesia
Yahudi bunuh Yesusnya KristennasraniYahudi KEJAM Menyiksa bagai binatang kepada YESUSajaranKRISTEN.

Subscription

Anda dapat berlangganan melalui e-mail untuk menerima update berita. GRATIS

Masukkan Email Anda, Gratis:

Selamat Anda Beruntung telah mengisi Email, Cek Email anda, Gratis artikel terbaru.

Most Popular

Artikel Ganas

Awas Politik Busuk Global


Tag Cloud

Label

Recent News

Archives

Flag Counter

Hai, Selamat datang